Sunday, May 12, 2013

Mengapa Awan berwarna Abu-abu Sebelum Hujan?

MESKIPUN hujan belum turun, kamu mungkin bisa menebak apakah sebentar lagi akan hujan atau tidak. Caranya, lihatlah awan. Bila berwarna abu-abu atau kehitaman, besar kemungkinan akan turun hujan. Semakin pekat warna awan, hujannya bakal semakin deras. Tapi, pernahkah Anda bertanya mengapa awan berwarna abu-abu kalau mau hujan? Bukankah air kalau awan itu mengandung air berwarna bening? Menurut Richard Brill, asisten profesor di Honolulu Community College, Hawaii, untuk mengetahui jawabannya, ada beberapa hal yang perlu dipahami.
Pertama, awan mendung sebetulnya tersusun atas bintik-bintik air dan kristal es bila suhu udara cukup dingin. Karena ukurannya sangat kecil, bintik air dan partikel es ini tidak jatuh, melainkan melayang-layang di udara. Konsentrasi partikel-partikel ini padat. Selain itu tebal. Inilah yang menyebabkan awan mendung biasanya berwarna abu-abu. Lalu, apa hubungannya antara ketebalan dan warna abu-abu?
Butiran-butiran air dan kristal es di dalam awan, kata Brill, umumnya menghamburkan semua cahaya matahari yang menerpa permukaannya. Padahal, seperti kita ketahui, benda yang menghamburkan semua cahaya yang menerpanya akan ditangkap oleh mata sebagai benda berwarna putih. Hal ini berbeda dengan partikel debu yang ada di udara yang lebih banyak menghamburkan cahaya biru (sehingga langit tampak berwarna biru).
Nah, pada awan yang tipis, kebanyakan cahaya yang menerpanya akan diteruskan, sehingga dari permukaan bumi akan tampak berwarna keputihan. Namun, pada awan yang tebal atau padat, akan sedikit cahaya yang diteruskan. Semakin kental atau tebal awan tersebut, cahaya yang diteruskan semakin sedikit. Akibatnya, awan yang tebal akan gelap di permukaan dasarnya, namun masih menghamburkan semua cahaya. Kita menerimanya sebagai warna abu-abu.

No comments:

Post a Comment