Kehidupan kita layaknya sinyal, ada saatnya di puncak dan di titik
terendah, masing-masing kondisi bukanlah kebetulan belaka, tapi disusun
oleh setiap kejadian kecil yang kita lakukan sebelumnya. Untuk menjaga
sinyal kita tetap memiliki gradien yang positif (selalu lebih baik dari
hari kemarin) maka banyak hal yang harus kita atur. Mungkin yang kita
semua sudah paham, salah satu kunci kesuksesan adalah manajemen waktu.
Manajemen waktu memang sangat penting dalam kehidupan kita. Waktu adalah
pedang, ia bisa menjadi senjata yang menusuk musuh kita atau malah
menusuk kita sendiri, tergantung apakah kita bisa mengendalikannya atau
tidak. ’Don’t waste your time, or time will waste you’.
Berbicara
masalah manajemen waktu, kata kuncinya adalah prioritas. Secara lumrah
kita biasa mengklasifikasikan kegiatan kita dalam empat kuadran.
Kuadran
pertama adalah kegiatan yang penting dan mendesak. Kegiatan ini biasa
diisi oleh suatu hal yang tiba-tiba muncul, seperti orang tua kita yang
tiba-tiba sakit. Atau diisi oleh hal yang tertunda dan mendekati
deadline, seperti tugas ’take home’ yang deadlinenya adalah esok hari.
Atau diisi oleh hal yang memang hakikatnya penting dan mendesak, seperti
laporan praktikum yang selalu harus dikumpulkan sehari setelah
praktikum.
Kuadran kedua adalah kegiatan yang penting
namun tidak mendesak. Kegiatan ini paling rawan untuk ditunda karen
deadline yang tidak berada di hadapan kita namun hal ini penting.
Contohnya misalnya Tugas Akhir bagi mahasiswa semester 7 atau lebih muda
atau mahasiswa semester 8 di tiga bulan awal. Suatu saat kegiatan di
kuadran ini akan berpindah ke kuadran satu. Contoh lainnya adalah hal
yang penting tapi memang tidak ada deadline, seperti mempersiapkan masa
depan. Misalkan ada orang yang ingin menjadi entrepreneur setelah lulus.
Ketika menjadi mahasiswa, memulai usaha, menjalin jaringan atau
memikirkan produk adalah hal yang harus segera dimulai. Namun karena
tidak ada deadline, banyak juga orang yang menunda dan akhirnya kepalang
tersibukkan oleh, tugas (ketika mahasiswa) atau pekerjaan (setelah
lulus) dan akhirnya ia tidak memulainya.
Kuadran ketiga adalah kegiatan yang kurang penting namun mendesak.
Biasanya kegiatan ini muncul dari pihak luar, misalnya nonton final liga
champions –contoh ini berdasarkan subjektivitas penulis-. Hal ini
kurang penting kecuali bagi orang yang memang berkecimpung dalam dunia
pesepakbolaan. Atau contoh lain adalah ajakan bermain futsal tiba-tiba.
Kuadran keempat adalah kegiatan yang kurang penting dan tidak mendesak.
Contohnya adalah bermain game atau rekreasi. Kegiatan di kuadran empat
ini dapat dimanfaatkan untuk refreshing.
Secara
hakikatnya, kita pasti memiliki kegiatan di empat kuadran tersebut,
pertanyaannya adalah di kuadran mana kita dominan? Orang yang dominan di
kuadran satu adalah orang yang cukup rawan stress karena hidupnya
dipenuhi deadline. Hal ini bisa diakibatkan oleh kebiasaan menunda atau deadliners.
Orang yang dominan di kuadran dua adalah orang yang mampu memanfaatkan
waktu sebaik-baiknya karena ia melakukan suatu kegiatan yang bermanfaat
bagi masa depan tanpa dikejar deadline. Orang yang dominan di kuadran
tiga, adalah orang yang ’yes man’, terlalu responsif atas semua kegiatan
yang bersifat mendadak. Orang yang dominan di kuadran empat adalah
pengangguran, tidak memiliki kegiatan penting bahkan tidak ada orang
yang memberikan deadline bagi dia. Nah, empat kuadran ini dapat membantu
kita dalam melakukan menejemen waktu dari kegiatan kegiatan kita.
Kembali ke masalah sinyal tadi, sinyal dapat kita definisikan dalam
dua domain, begitu pula kehidupan kita. Sinyal memiliki domain waktu,
maka kita harus memiliki manajemen waktu yang baik. Sinyal juga memiliki
domain frekuensi, apa yang harus kita lakukan? Dalam domain frekuensi
tadi, sinyal tersusun atas sinyal natural (sinusoidal) yang berbeda
frekuensi dan fasa, sehingga dalam waktu t tertentu, sinyal tersebut
sebenarnya terdiri atas beberapa sinyal lainnya. Begitu pula kita dalam
kehidupan. Pada suatu waktu t tertentu, mungkin tidak hanya satu
kegiatan yang kita lakukan. Oleh karena itu, untuk melengkapi manajemen
waktu, kita membutuhkan manajemen fokus. Jika kita sudah bisa
memilah-milah porsi waktu dari kegiatan kita sesuai prioritas, maka
pertanyaannya adalah sejauh mana kita optimal dalam waktu tersebut?
Sebagai
contoh, kita sudah menyiapkan dan mengosongkan waktu satu malam,
menolak traktiran teman, ga ikut futsal, untuk belajar ujian. Namun
ternyata dalam realisasinya, tab-tab facebook, kaskus, dll
lebih dominan mengisi malam itu dibandingkan belajar. Layaknya sinyal
noise begitu besar sehingga sinyal suara yang berisi informasi tertutup
begitu saja. Hal seperti ini pasti sering kita jumpai. Atau contoh
lainnya, pada masa ujian, kita harus menyiapkan sebuh kegiatan di
organisasi kemahasiswaan. Ketika kita sudah menyiapkan waktu untuk
berkumpul dan rapat bersama-sama, jangan sampai pikiran tentang ujian
mengganggu rapat atau bahkan kita datang rapat sambil membuka buku untuk
ujian. Rapat tidak optmal, belajar pun tidak mendapat apa-apa. Atau
sebaliknya, ketika sudah pulang ke rumah untuk belajar, jangan sampai
tugas organisasi mengganggu pikiran ketika belajar. Akhirnya ujian tidak
bisa, organisasi pun terbengkalai.
Inilah pentingnya
manajemen waktu dan mamanajemen fokus, bagaimana kita bisa membagi
kavling waktu ke setiap kuadran dengan bijak sesuai prioritas, dan
mengoptimalkan setiap kavling menjadi kebun-kebun yang berpohon besar
dan berbuah lebat. Optimal di setiap kegiatan yang kita ikuti, ’do the
best all the time!’
Mudah-mudahan tulisan ini bisa mengingatkan kembali kita untuk lebih bijak menghadapi kesibukan dan menggapai kesuksesan.
Saturday, September 14, 2013
[Fisika Sosial] Hukum Newton dalam Perjalanan Hidup Manusia
Hukum Newton
1. Jika resultan (jumlah total) Gaya yang bekerja pada sebuah benda adalah nol, maka benda tersebut akan tetap diam atau bergerak dengan kecepatan konstan.
Cara menangkapnya sederhana saja – pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang & sempit. Toples itu diisi kacang yg telah diberi aroma.
Tujuannya untuk mengundang monyet-monyet dtg. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dgn menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.
Para pemburu melakukannya disore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yg tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan.
Kok, bisa ?
Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yg keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yg ada di dalam.
Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya.
Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat.
Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana!
Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu.
Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sdg menertawakan diri sendiri.
Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu.
Kita mengenggam erat setiap permasalahan yg kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang.
Nah, oke, sekarang tinggal analogi dari hukum newton yang kedua. Sebenarnya analogi yang kedua ini simpel. Semakin berat bobot (kualitas) seseorang maka akan dibutuhkan gaya yang lebih untuk mempercepat gerakannya. Dalam sudut pandang yang lain, hal ini mirip juga dengan pepatah yang mengatakan bahwa semakin tinggi sebuah pohon maka semakin kencang angin yang menerpanya. Selain itu analogi hukum kedua ini juga bisa dipandang seperti ini, jika kita ‘memberikan’ bobot yang berat pada masalah kita maka akan semakin sulit bagi kita untuk mendorongnya supaya menjauh dari kita.
1. Jika resultan (jumlah total) Gaya yang bekerja pada sebuah benda adalah nol, maka benda tersebut akan tetap diam atau bergerak dengan kecepatan konstan.
(sumber gambar http://en.wikipedia.org/wiki/Newton%27s_laws_of_motion )
2. Percepatan yang dialami suatu benda akan searah dan berbanding lurus dengan Gaya yang dialaminya, serta berbanding terbalik dengan massanya. Bisa juga dikatakan bahwa total Gaya yang dialami merupakan turunan dari momentum linear benda tersebut terhadap waktu.

(sumber gambar http://en.wikipedia.org/wiki/Newton%27s_laws_of_motion )
3. Ketika benda pertama memberikan Gaya kepada benda kedua, benda kedua akan memberikan Gaya dengan besar yang sama namun dalam arah berlawanan kepada benda pertama.
Jadi secara kasar bisa dibilang bahwa Gaya adalah yang membuat sesuatu berubah. Sedikit catatan juga, Hukum Newton ini merupakan pendekatan yang bagus jika kecepatan yang terlibat jauh lebih kecil dari kecepatan cahaya. Jika kecepatannya lebih cepat dari kecepatan cahaya, konon katanya Teori Relativitas merupakan pendekatan yang lebih tepat.Fa,b adalah gaya-gaya yang bekerja pada A oleh B, dan Fb,a adalah gaya-gaya yang bekerja pada B oleh A.
Lalu, bagaimana analoginya dalam perjalanan hidup kita?
Tentu teman-teman pernah merasakan hal
seperti ini. Di tengah perjalanan hidup yang terlihat-lihat mulus saja,
kita merasa nyaman. Kita terbiasa untuk menjalani kebiasaan-kebiasaan
kita (entah itu baik entah itu buruk). Kita terbiasa dengan pola yang
ada dalam hidup kita, menghindari hal-hal yang kita takuti dan melakukan
hal-hal yang memang sudah menjadi rutinitas.
Sesungguhnya pada saat itulah hukum newton
pertama bekerja. Ketika kita terperangkap dalam pola tersebut,
sesungguhnya tidak ada Gaya atau semacam Dorongan yang bekerja pada diri
kita. Artinya ya kita hidup dalam diam atau dalam lembam. Atau dengan
kata lain tidak ada perkembangan.
Nah, tidak bisa dipungkiri, ketika akan
lebih mudah untuk berjalan seperti biasanya dengan arah yang sama sampai
akhirnya kita menabrak tembok. Seperti dalam hidup, akan lebih
mudah bagi kita untuk terjebak dalam zona nyaman sampai akhirnya ada
‘sesuatu’ yang menyentil atau mengingatkan kita. Sesuatu itu
bisa berupa permasalahan, musibah, atau kejutan hidup yang tak
terduga. Sakit sih memang, tapi dari situ kita banyak belajar.
Ketika hal itu terjadi, tak jarang kita justru terfokus pada tembok tersebut. Saat
hal itu terjadi kita justru lebih suka mengutuk masalah yang ada,
padahal hal itu justru menyebabkan masalah tersebut mengutuk kita,
seperti hukum newton yang ketiga. Padahal daripada
terus-terusan mendorong tembok (padahal temboknya juga mendorong/menahan
kita), bukankah lebih baik kita berjalan ke arah yang lain?
Oh iya,
saya jadi ingin berbagi sedikit apa yang saya lihat di newsfeed facebook
beberapa minggu lalu:
Di Afrika, teknik / cara berburu monyet
begitu unik. memungkinkan sipemburu menangkap monyet dalam keadaan
hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun.Cara menangkapnya sederhana saja – pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang & sempit. Toples itu diisi kacang yg telah diberi aroma.
Tujuannya untuk mengundang monyet-monyet dtg. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dgn menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.
Para pemburu melakukannya disore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yg tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan.
Kok, bisa ?
Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yg keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yg ada di dalam.
Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya.
Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat.
Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana!
Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu.
Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sdg menertawakan diri sendiri.
Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu.
Kita mengenggam erat setiap permasalahan yg kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang.
Kita sering menyimpan dendam, tak mudah
memberi maaf, tak mudah mengampuni. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi
bara amarah masih ada di dalam dada.
Kita tak pernah bisa melepasnya.?
Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi.
Dgn beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan.
Tanpa sadar, kita sebenarya sdg terperangkap penyakit kepahitan yg parah.?
Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya & kita pun akan selamat dari sakit hati jika sebelum matahari terbenam kita mau melepas semua perasaan negatif terhadap siapapun.
Selamat membuka genggaman tangan …!!:DKita tak pernah bisa melepasnya.?
Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi.
Dgn beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan.
Tanpa sadar, kita sebenarya sdg terperangkap penyakit kepahitan yg parah.?
Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya & kita pun akan selamat dari sakit hati jika sebelum matahari terbenam kita mau melepas semua perasaan negatif terhadap siapapun.
Nah, oke, sekarang tinggal analogi dari hukum newton yang kedua. Sebenarnya analogi yang kedua ini simpel. Semakin berat bobot (kualitas) seseorang maka akan dibutuhkan gaya yang lebih untuk mempercepat gerakannya. Dalam sudut pandang yang lain, hal ini mirip juga dengan pepatah yang mengatakan bahwa semakin tinggi sebuah pohon maka semakin kencang angin yang menerpanya. Selain itu analogi hukum kedua ini juga bisa dipandang seperti ini, jika kita ‘memberikan’ bobot yang berat pada masalah kita maka akan semakin sulit bagi kita untuk mendorongnya supaya menjauh dari kita.
Hukum Kelembaman dan Fisika Kehidupan
Pernahkah Anda bertanya kenapa ditinggal pergi orang yang kita cintai itu begitu sakit?
kenapa berpisah dengan orang tua setelah lama tinggal bersama mereka itu tidak enak?
kenapa putus cinta itu rasanya sakit sekali?
atau, kenapa sakaratul maut itu begitu sakit (katanya)?
#more
terdapat satu hukum fisika yang bekerja untuk semua benda di dunia ini. Hukum tersebut bernama hukum Kelembaman.
Hukum ini mengatakan bahwa segala sesuatu cenderung mempertahankan keadaannya semula. Kalau kita ingat dulu semasa kita SMA dulu kita sering melakukan eksperimen sederhana untuk membuktikan keberadaan hukum ini. Caranya adalah dengan kelereng yang diletakkan di atas sebuah kertas. Ketika kita mencoba menarik kertas tersebut dengan sangat cepat, maka kelereng tersebut tidak berpindah dari tempatnya. Ini membuktikan hukum kelembaman telah terjadi.
Lantas, jika benar hukum ini berlaku untuk semua benda di dunia, tidak terkecuali dengan kita manusia bukan?
Ya, menurut hemat saya, hukum ini juga berlaku untuk kita manusia.
Hal ini terlihat pada pertanyaan-pertanyaan yang saya sebutkan di awal tulisan ini.
Pernahkah Anda berpikir kenapa mati itu sangat sakit?
Dahi Rasulullah saja hingga berkeringat pada saat sakaratul maut. Padalah malaikat telah memperlakukan beliau dengan sangat lembut. Saking sakitnya sakaratul maut, Rasul yang sangat menyayangi ummatnya hingga berdoa kepada Allah supaya hanya beliau saja yang merasakan rasa sakit sakaratul maut ini. Beliau yang agung tidak ingin ummatnya merasakan sakit. Hal ini merupakan salah satu doa Rasul yang tidak dikabulkan oleh Allah SWT.
Sakitnya sakaratul maut adalah karena kita mengikuti hukum kelembaman. Tubuh dan ruh kita sudah terbiasa menyatu selama beberapa puluh tahun. Pada saat sakaratul maut, ruh kita dipaksa untuk keluar dari jasad yang telah menyatu dengannya selama puluhan tahun, apakah Anda dapat membayangkan sakitnya?
Sama halnya dengan perpisahan kita dari orang orang yang kita cintai. Ketika kita telah hidup bersama pasangan kita selama 40 tahun, lantas tiba tiba saja pasangan kita tersebut dipanggil untuk pulang ke hadirat Tuhan, diri kita akan bereaksi untuk mempertahankan keadaan kita semula. Sakit sekali pasti rasanya. Kita seakan tidak mampu menerima semuanya.
Maha suci Allah yang telah mengaruniakan sifat lupa dalam diri kita. Dengan sifat ini, kesedihan kita tidak akan berlangsung lama. Waktu akan berjalan, masa akan berlalu. Perlahan lahan rasa sakit ditinggalkan orang orang yang kita cintai pasti akan berkurang.
bagaimana pendapat Anda tentang hukum kelembaman ini?
kenapa berpisah dengan orang tua setelah lama tinggal bersama mereka itu tidak enak?
kenapa putus cinta itu rasanya sakit sekali?
atau, kenapa sakaratul maut itu begitu sakit (katanya)?
#more
terdapat satu hukum fisika yang bekerja untuk semua benda di dunia ini. Hukum tersebut bernama hukum Kelembaman.
Hukum ini mengatakan bahwa segala sesuatu cenderung mempertahankan keadaannya semula. Kalau kita ingat dulu semasa kita SMA dulu kita sering melakukan eksperimen sederhana untuk membuktikan keberadaan hukum ini. Caranya adalah dengan kelereng yang diletakkan di atas sebuah kertas. Ketika kita mencoba menarik kertas tersebut dengan sangat cepat, maka kelereng tersebut tidak berpindah dari tempatnya. Ini membuktikan hukum kelembaman telah terjadi.
Lantas, jika benar hukum ini berlaku untuk semua benda di dunia, tidak terkecuali dengan kita manusia bukan?
Ya, menurut hemat saya, hukum ini juga berlaku untuk kita manusia.
Hal ini terlihat pada pertanyaan-pertanyaan yang saya sebutkan di awal tulisan ini.
Pernahkah Anda berpikir kenapa mati itu sangat sakit?
Dahi Rasulullah saja hingga berkeringat pada saat sakaratul maut. Padalah malaikat telah memperlakukan beliau dengan sangat lembut. Saking sakitnya sakaratul maut, Rasul yang sangat menyayangi ummatnya hingga berdoa kepada Allah supaya hanya beliau saja yang merasakan rasa sakit sakaratul maut ini. Beliau yang agung tidak ingin ummatnya merasakan sakit. Hal ini merupakan salah satu doa Rasul yang tidak dikabulkan oleh Allah SWT.
Sakitnya sakaratul maut adalah karena kita mengikuti hukum kelembaman. Tubuh dan ruh kita sudah terbiasa menyatu selama beberapa puluh tahun. Pada saat sakaratul maut, ruh kita dipaksa untuk keluar dari jasad yang telah menyatu dengannya selama puluhan tahun, apakah Anda dapat membayangkan sakitnya?
Sama halnya dengan perpisahan kita dari orang orang yang kita cintai. Ketika kita telah hidup bersama pasangan kita selama 40 tahun, lantas tiba tiba saja pasangan kita tersebut dipanggil untuk pulang ke hadirat Tuhan, diri kita akan bereaksi untuk mempertahankan keadaan kita semula. Sakit sekali pasti rasanya. Kita seakan tidak mampu menerima semuanya.
Maha suci Allah yang telah mengaruniakan sifat lupa dalam diri kita. Dengan sifat ini, kesedihan kita tidak akan berlangsung lama. Waktu akan berjalan, masa akan berlalu. Perlahan lahan rasa sakit ditinggalkan orang orang yang kita cintai pasti akan berkurang.
bagaimana pendapat Anda tentang hukum kelembaman ini?
FORMASI CPNS KABUPATEN PAMEKASAN
Info tentang formasi CPNS kabupaten pamekasan. Bagi yang membutuhkan silahkan DOWNLOAD
Subscribe to:
Comments (Atom)