1. Jika resultan (jumlah total) Gaya yang bekerja pada sebuah benda adalah nol, maka benda tersebut akan tetap diam atau bergerak dengan kecepatan konstan.
(sumber gambar http://en.wikipedia.org/wiki/Newton%27s_laws_of_motion )
2. Percepatan yang dialami suatu benda akan searah dan berbanding lurus dengan Gaya yang dialaminya, serta berbanding terbalik dengan massanya. Bisa juga dikatakan bahwa total Gaya yang dialami merupakan turunan dari momentum linear benda tersebut terhadap waktu.

(sumber gambar http://en.wikipedia.org/wiki/Newton%27s_laws_of_motion )
3. Ketika benda pertama memberikan Gaya kepada benda kedua, benda kedua akan memberikan Gaya dengan besar yang sama namun dalam arah berlawanan kepada benda pertama.
Jadi secara kasar bisa dibilang bahwa Gaya adalah yang membuat sesuatu berubah. Sedikit catatan juga, Hukum Newton ini merupakan pendekatan yang bagus jika kecepatan yang terlibat jauh lebih kecil dari kecepatan cahaya. Jika kecepatannya lebih cepat dari kecepatan cahaya, konon katanya Teori Relativitas merupakan pendekatan yang lebih tepat.Fa,b adalah gaya-gaya yang bekerja pada A oleh B, dan Fb,a adalah gaya-gaya yang bekerja pada B oleh A.
Lalu, bagaimana analoginya dalam perjalanan hidup kita?
Tentu teman-teman pernah merasakan hal
seperti ini. Di tengah perjalanan hidup yang terlihat-lihat mulus saja,
kita merasa nyaman. Kita terbiasa untuk menjalani kebiasaan-kebiasaan
kita (entah itu baik entah itu buruk). Kita terbiasa dengan pola yang
ada dalam hidup kita, menghindari hal-hal yang kita takuti dan melakukan
hal-hal yang memang sudah menjadi rutinitas.
Sesungguhnya pada saat itulah hukum newton
pertama bekerja. Ketika kita terperangkap dalam pola tersebut,
sesungguhnya tidak ada Gaya atau semacam Dorongan yang bekerja pada diri
kita. Artinya ya kita hidup dalam diam atau dalam lembam. Atau dengan
kata lain tidak ada perkembangan.
Nah, tidak bisa dipungkiri, ketika akan
lebih mudah untuk berjalan seperti biasanya dengan arah yang sama sampai
akhirnya kita menabrak tembok. Seperti dalam hidup, akan lebih
mudah bagi kita untuk terjebak dalam zona nyaman sampai akhirnya ada
‘sesuatu’ yang menyentil atau mengingatkan kita. Sesuatu itu
bisa berupa permasalahan, musibah, atau kejutan hidup yang tak
terduga. Sakit sih memang, tapi dari situ kita banyak belajar.
Ketika hal itu terjadi, tak jarang kita justru terfokus pada tembok tersebut. Saat
hal itu terjadi kita justru lebih suka mengutuk masalah yang ada,
padahal hal itu justru menyebabkan masalah tersebut mengutuk kita,
seperti hukum newton yang ketiga. Padahal daripada
terus-terusan mendorong tembok (padahal temboknya juga mendorong/menahan
kita), bukankah lebih baik kita berjalan ke arah yang lain?
Oh iya,
saya jadi ingin berbagi sedikit apa yang saya lihat di newsfeed facebook
beberapa minggu lalu:
Di Afrika, teknik / cara berburu monyet
begitu unik. memungkinkan sipemburu menangkap monyet dalam keadaan
hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun.Cara menangkapnya sederhana saja – pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang & sempit. Toples itu diisi kacang yg telah diberi aroma.
Tujuannya untuk mengundang monyet-monyet dtg. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dgn menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.
Para pemburu melakukannya disore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yg tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan.
Kok, bisa ?
Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yg keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yg ada di dalam.
Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya.
Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat.
Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana!
Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu.
Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sdg menertawakan diri sendiri.
Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu.
Kita mengenggam erat setiap permasalahan yg kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang.
Kita sering menyimpan dendam, tak mudah
memberi maaf, tak mudah mengampuni. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi
bara amarah masih ada di dalam dada.
Kita tak pernah bisa melepasnya.?
Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi.
Dgn beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan.
Tanpa sadar, kita sebenarya sdg terperangkap penyakit kepahitan yg parah.?
Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya & kita pun akan selamat dari sakit hati jika sebelum matahari terbenam kita mau melepas semua perasaan negatif terhadap siapapun.
Selamat membuka genggaman tangan …!!:DKita tak pernah bisa melepasnya.?
Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi.
Dgn beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan.
Tanpa sadar, kita sebenarya sdg terperangkap penyakit kepahitan yg parah.?
Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya & kita pun akan selamat dari sakit hati jika sebelum matahari terbenam kita mau melepas semua perasaan negatif terhadap siapapun.
Nah, oke, sekarang tinggal analogi dari hukum newton yang kedua. Sebenarnya analogi yang kedua ini simpel. Semakin berat bobot (kualitas) seseorang maka akan dibutuhkan gaya yang lebih untuk mempercepat gerakannya. Dalam sudut pandang yang lain, hal ini mirip juga dengan pepatah yang mengatakan bahwa semakin tinggi sebuah pohon maka semakin kencang angin yang menerpanya. Selain itu analogi hukum kedua ini juga bisa dipandang seperti ini, jika kita ‘memberikan’ bobot yang berat pada masalah kita maka akan semakin sulit bagi kita untuk mendorongnya supaya menjauh dari kita.
No comments:
Post a Comment