Sunday, April 14, 2013

Kebahagiaan dan Mestakung

Seorang pembicara wanita yang rumah tangganya harmonis ditanya: “apakah suaminya yang membuat dia bahagia?” jawabnya mengejutkan sekali : “tidak!”. Menurut dia, yang membuat ia bahagia adalah dirinya sendiri.

Seorang tua dimasukan ke rumah jompo, alih-alih bersungut-sungut ia bersyukur. Ia bersyukur dapat kamar yang kecil, ia bersyukur masih bisa dapat makan, ia bersyukur mempunyai teman-teman jompo lainnya, ia bersyukur dan bersyukur… dan ia merasa dirinya berbahagia…

Dalam konsep mestakung ketika kita men”set-up” pikiran kita atau PERCAYA bahwa kita adalah orang yang berbahagia, maka terjadilah pengaturan diri di dalam tubuh kita. Sikap dan pikiran kita terasa lebih positif. Rasa percaya ini dapat ditimbulkan dengan menuliskan “saya diciptakan untuk jadi orang yang berbahagia” dalam buku, di tembok atau dimana saja. Bisa juga dengan berdoa, meditasi, atau membayangkan diri kita adalah orang yang berbahagia. Dalam mestakung kondisi percaya ini adalah kondisi kritis (kita percaya walaupun kenyataannya kita belum dapat) yang mampu menggerakan sesuatu untuk mengatur diri.

Perubahan sikap ini harus dilanjutkan dengan TINDAKAN, yaitu kalau dulu sering cemberut sekarang cobalah lebih sering senyum, dulu sering mengeluh sekarang cobalah lebih sering bersyukur, dulu sering ngomong kasar sekarang katakan dengan tutur bahasa yang lebih halus, dulu malas bantu ibu sekarang bersemangatlah bantu ibu, dulu benci orang sekarang doakanlah mereka, dulu sulit berbagi sekarang rajinlah memberi, dulu sering berpikiran negatif terhadap temannya sekarang berpikirlah positif tentang dia dst…dst… Dan jangan lupa berdoa agar kita bisa tetap melakukan ini terus menerus dan tetap rendah hati.
Ketika kita lakukan ini dengan TEKUN maka terjadilah mestakung (pengaturan diri), kita akan melihat keluarga mulai tersenyum pada kita membuat kita berbahagia, tetangga mulai mau bertegur sapa dengan kita membuat kita lebih bahagia, teman sekolah/kerabat kerja lebih bersahabat dan membuat kita lebih bahagia lagi, sepertinya seluruh dunia membuat kita lebih lebih bahagia… dan kita merasa menjadi orang yang berbahagia di dunia ini…

Sebaliknya kalau kita men “set-up” (mengeluh terus menerus) diri kita sebagai orang yang paling malang, maka terjadilah pengaturan diri (mestakung)… kita benar-benar menjadi orang termalang di dunia…

Pilihan bahagia atau tidak, ada dalam diri kita….Kita yang menentukan mau jadi orang berbahagia atau tidak… Proses mestakung+ akan bantu merealisasikan pilihan kita…

No comments:

Post a Comment