Kebahagiaan dan Mestakung
Seorang
pembicara wanita yang rumah tangganya harmonis ditanya: “apakah
suaminya yang membuat dia bahagia?” jawabnya mengejutkan sekali :
“tidak!”. Menurut dia, yang membuat ia bahagia adalah dirinya sendiri.
Seorang tua dimasukan ke rumah jompo, alih-alih bersungut-sungut ia
bersyukur. Ia bersyukur dapat kamar yang kecil, ia bersyukur masih bisa
dapat makan, ia bersyukur mempunyai teman-teman jompo lainnya, ia
bersyukur dan bersyukur… dan ia merasa dirinya berbahagia…
Dalam konsep mestakung ketika kita men”set-up” pikiran kita atau
PERCAYA bahwa kita adalah orang yang berbahagia, maka terjadilah
pengaturan diri di dalam tubuh kita. Sikap dan pikiran kita terasa lebih
positif. Rasa percaya ini dapat ditimbulkan dengan menuliskan “saya
diciptakan untuk jadi orang yang berbahagia” dalam buku, di tembok atau
dimana saja. Bisa juga dengan berdoa, meditasi, atau membayangkan diri
kita adalah orang yang berbahagia. Dalam mestakung kondisi percaya ini
adalah kondisi kritis (kita percaya walaupun kenyataannya kita belum
dapat) yang mampu menggerakan sesuatu untuk mengatur diri.
Perubahan sikap ini harus dilanjutkan dengan TINDAKAN, yaitu kalau dulu
sering cemberut sekarang cobalah lebih sering senyum, dulu sering
mengeluh sekarang cobalah lebih sering bersyukur, dulu sering ngomong
kasar sekarang katakan dengan tutur bahasa yang lebih halus, dulu malas
bantu ibu sekarang bersemangatlah bantu ibu, dulu benci orang sekarang
doakanlah mereka, dulu sulit berbagi sekarang rajinlah memberi, dulu
sering berpikiran negatif terhadap temannya sekarang berpikirlah positif
tentang dia dst…dst… Dan jangan lupa berdoa agar kita bisa tetap
melakukan ini terus menerus dan tetap rendah hati.
Ketika
kita lakukan ini dengan TEKUN maka terjadilah mestakung (pengaturan
diri), kita akan melihat keluarga mulai tersenyum pada kita membuat kita
berbahagia, tetangga mulai mau bertegur sapa dengan kita membuat kita
lebih bahagia, teman sekolah/kerabat kerja lebih bersahabat dan membuat
kita lebih bahagia lagi, sepertinya seluruh dunia membuat kita lebih
lebih bahagia… dan kita merasa menjadi orang yang berbahagia di dunia
ini…
Sebaliknya kalau kita men “set-up” (mengeluh terus
menerus) diri kita sebagai orang yang paling malang, maka terjadilah
pengaturan diri (mestakung)… kita benar-benar menjadi orang termalang di
dunia…
Pilihan bahagia atau tidak, ada dalam diri kita….Kita
yang menentukan mau jadi orang berbahagia atau tidak… Proses mestakung+
akan bantu merealisasikan pilihan kita…
No comments:
Post a Comment