Saturday, September 14, 2013

Fisika Sosial 2

Kehidupan kita layaknya sinyal, ada saatnya di puncak dan di titik terendah, masing-masing kondisi bukanlah kebetulan belaka, tapi disusun oleh setiap kejadian kecil yang kita lakukan sebelumnya. Untuk menjaga sinyal kita tetap memiliki gradien yang positif (selalu lebih baik dari hari kemarin) maka banyak hal yang harus kita atur. Mungkin yang kita semua sudah paham, salah satu kunci kesuksesan adalah manajemen waktu. Manajemen waktu memang sangat penting dalam kehidupan kita. Waktu adalah pedang, ia bisa menjadi senjata yang menusuk musuh kita atau malah menusuk kita sendiri, tergantung apakah kita bisa mengendalikannya atau tidak. ’Don’t waste your time, or time will waste you’.
Berbicara masalah manajemen waktu, kata kuncinya adalah prioritas. Secara lumrah kita biasa mengklasifikasikan kegiatan kita dalam empat kuadran.

Kuadran pertama adalah kegiatan yang penting dan mendesak. Kegiatan ini biasa diisi oleh suatu hal yang tiba-tiba muncul, seperti orang tua kita yang tiba-tiba sakit. Atau diisi oleh hal yang tertunda dan mendekati deadline, seperti tugas ’take home’ yang deadlinenya adalah esok hari. Atau diisi oleh hal yang memang hakikatnya penting dan mendesak, seperti laporan praktikum yang selalu harus dikumpulkan sehari setelah praktikum.

Kuadran kedua adalah kegiatan yang penting namun tidak mendesak. Kegiatan ini paling rawan untuk ditunda karen deadline yang tidak berada di hadapan kita namun hal ini penting. Contohnya misalnya Tugas Akhir bagi mahasiswa semester 7 atau lebih muda atau mahasiswa semester 8 di tiga bulan awal. Suatu saat kegiatan di kuadran ini akan berpindah ke kuadran satu. Contoh lainnya adalah hal yang penting tapi memang tidak ada deadline, seperti mempersiapkan masa depan. Misalkan ada orang yang ingin menjadi entrepreneur setelah lulus. Ketika menjadi mahasiswa, memulai usaha, menjalin jaringan atau memikirkan produk adalah hal yang harus segera dimulai. Namun karena tidak ada deadline, banyak juga orang yang menunda dan akhirnya kepalang tersibukkan oleh, tugas (ketika mahasiswa) atau pekerjaan (setelah lulus) dan akhirnya ia tidak memulainya.

Kuadran ketiga adalah kegiatan yang kurang penting namun mendesak. Biasanya kegiatan ini muncul dari pihak luar, misalnya nonton final liga champions –contoh ini berdasarkan subjektivitas penulis-. Hal ini kurang penting kecuali bagi orang yang memang berkecimpung dalam dunia pesepakbolaan. Atau contoh lain adalah ajakan bermain futsal tiba-tiba. Kuadran keempat adalah kegiatan yang kurang penting dan tidak mendesak. Contohnya adalah bermain game atau rekreasi. Kegiatan di kuadran empat ini dapat dimanfaatkan untuk refreshing.

Secara hakikatnya, kita pasti memiliki kegiatan di empat kuadran tersebut, pertanyaannya adalah di kuadran mana kita dominan? Orang yang dominan di kuadran satu adalah orang yang cukup rawan stress karena hidupnya dipenuhi deadline. Hal ini bisa diakibatkan oleh kebiasaan menunda atau deadliners. Orang yang dominan di kuadran dua adalah orang yang mampu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya karena ia melakukan suatu kegiatan yang bermanfaat bagi masa depan tanpa dikejar deadline. Orang yang dominan di kuadran tiga, adalah orang yang ’yes man’, terlalu responsif atas semua kegiatan yang bersifat mendadak. Orang yang dominan di kuadran empat adalah pengangguran, tidak memiliki kegiatan penting bahkan tidak ada orang yang memberikan deadline bagi dia. Nah, empat kuadran ini dapat membantu kita dalam melakukan menejemen waktu dari kegiatan kegiatan kita.

Kembali ke masalah sinyal tadi, sinyal dapat kita definisikan dalam dua domain, begitu pula kehidupan kita. Sinyal memiliki domain waktu, maka kita harus memiliki manajemen waktu yang baik. Sinyal juga memiliki domain frekuensi, apa yang harus kita lakukan? Dalam domain frekuensi tadi, sinyal tersusun atas sinyal natural (sinusoidal) yang berbeda frekuensi dan fasa, sehingga dalam waktu t tertentu, sinyal tersebut sebenarnya terdiri atas beberapa sinyal lainnya. Begitu pula kita dalam kehidupan. Pada suatu waktu t tertentu, mungkin tidak hanya satu kegiatan yang kita lakukan. Oleh karena itu, untuk melengkapi manajemen waktu, kita membutuhkan manajemen fokus. Jika kita sudah bisa memilah-milah porsi waktu dari kegiatan kita sesuai prioritas, maka pertanyaannya adalah sejauh mana kita optimal dalam waktu tersebut?
Sebagai contoh, kita sudah menyiapkan dan mengosongkan waktu satu malam, menolak traktiran teman, ga ikut futsal, untuk belajar ujian. Namun ternyata dalam realisasinya, tab-tab facebook, kaskus, dll lebih dominan mengisi malam itu dibandingkan belajar. Layaknya sinyal noise begitu besar sehingga sinyal suara yang berisi informasi tertutup begitu saja. Hal seperti ini pasti sering kita jumpai. Atau contoh lainnya,  pada masa ujian, kita harus menyiapkan sebuh kegiatan di organisasi kemahasiswaan. Ketika kita sudah menyiapkan waktu untuk berkumpul dan rapat bersama-sama, jangan sampai pikiran tentang ujian mengganggu rapat atau bahkan kita datang rapat sambil membuka buku untuk ujian. Rapat tidak optmal, belajar pun tidak mendapat apa-apa. Atau sebaliknya, ketika sudah pulang ke rumah untuk belajar, jangan sampai tugas organisasi mengganggu pikiran ketika belajar. Akhirnya ujian tidak bisa, organisasi pun terbengkalai.

Inilah pentingnya manajemen waktu dan mamanajemen fokus, bagaimana kita bisa membagi kavling waktu ke setiap kuadran dengan bijak sesuai prioritas, dan mengoptimalkan setiap kavling menjadi kebun-kebun yang berpohon besar dan berbuah lebat. Optimal di setiap kegiatan yang kita ikuti, ’do the best all the time!’

Mudah-mudahan tulisan ini bisa mengingatkan kembali kita untuk lebih bijak menghadapi kesibukan dan menggapai kesuksesan.

1 comment:

  1. halooo...riooo.... ayoo... aktifin lagi nulis di blognya, di tahun 2014 ini, heuheu

    ReplyDelete