Kehidupan kita layaknya sinyal, ada saatnya di puncak dan di titik
terendah, masing-masing kondisi bukanlah kebetulan belaka, tapi disusun
oleh setiap kejadian kecil yang kita lakukan sebelumnya. Untuk menjaga
sinyal kita tetap memiliki gradien yang positif (selalu lebih baik dari
hari kemarin) maka banyak hal yang harus kita atur. Mungkin yang kita
semua sudah paham, salah satu kunci kesuksesan adalah manajemen waktu.
Manajemen waktu memang sangat penting dalam kehidupan kita. Waktu adalah
pedang, ia bisa menjadi senjata yang menusuk musuh kita atau malah
menusuk kita sendiri, tergantung apakah kita bisa mengendalikannya atau
tidak. ’Don’t waste your time, or time will waste you’.
Berbicara
masalah manajemen waktu, kata kuncinya adalah prioritas. Secara lumrah
kita biasa mengklasifikasikan kegiatan kita dalam empat kuadran.
Kuadran
pertama adalah kegiatan yang penting dan mendesak. Kegiatan ini biasa
diisi oleh suatu hal yang tiba-tiba muncul, seperti orang tua kita yang
tiba-tiba sakit. Atau diisi oleh hal yang tertunda dan mendekati
deadline, seperti tugas ’take home’ yang deadlinenya adalah esok hari.
Atau diisi oleh hal yang memang hakikatnya penting dan mendesak, seperti
laporan praktikum yang selalu harus dikumpulkan sehari setelah
praktikum.
Kuadran kedua adalah kegiatan yang penting
namun tidak mendesak. Kegiatan ini paling rawan untuk ditunda karen
deadline yang tidak berada di hadapan kita namun hal ini penting.
Contohnya misalnya Tugas Akhir bagi mahasiswa semester 7 atau lebih muda
atau mahasiswa semester 8 di tiga bulan awal. Suatu saat kegiatan di
kuadran ini akan berpindah ke kuadran satu. Contoh lainnya adalah hal
yang penting tapi memang tidak ada deadline, seperti mempersiapkan masa
depan. Misalkan ada orang yang ingin menjadi entrepreneur setelah lulus.
Ketika menjadi mahasiswa, memulai usaha, menjalin jaringan atau
memikirkan produk adalah hal yang harus segera dimulai. Namun karena
tidak ada deadline, banyak juga orang yang menunda dan akhirnya kepalang
tersibukkan oleh, tugas (ketika mahasiswa) atau pekerjaan (setelah
lulus) dan akhirnya ia tidak memulainya.
Kuadran ketiga adalah kegiatan yang kurang penting namun mendesak.
Biasanya kegiatan ini muncul dari pihak luar, misalnya nonton final liga
champions –contoh ini berdasarkan subjektivitas penulis-. Hal ini
kurang penting kecuali bagi orang yang memang berkecimpung dalam dunia
pesepakbolaan. Atau contoh lain adalah ajakan bermain futsal tiba-tiba.
Kuadran keempat adalah kegiatan yang kurang penting dan tidak mendesak.
Contohnya adalah bermain game atau rekreasi. Kegiatan di kuadran empat
ini dapat dimanfaatkan untuk refreshing.
Secara
hakikatnya, kita pasti memiliki kegiatan di empat kuadran tersebut,
pertanyaannya adalah di kuadran mana kita dominan? Orang yang dominan di
kuadran satu adalah orang yang cukup rawan stress karena hidupnya
dipenuhi deadline. Hal ini bisa diakibatkan oleh kebiasaan menunda atau deadliners.
Orang yang dominan di kuadran dua adalah orang yang mampu memanfaatkan
waktu sebaik-baiknya karena ia melakukan suatu kegiatan yang bermanfaat
bagi masa depan tanpa dikejar deadline. Orang yang dominan di kuadran
tiga, adalah orang yang ’yes man’, terlalu responsif atas semua kegiatan
yang bersifat mendadak. Orang yang dominan di kuadran empat adalah
pengangguran, tidak memiliki kegiatan penting bahkan tidak ada orang
yang memberikan deadline bagi dia. Nah, empat kuadran ini dapat membantu
kita dalam melakukan menejemen waktu dari kegiatan kegiatan kita.
Kembali ke masalah sinyal tadi, sinyal dapat kita definisikan dalam
dua domain, begitu pula kehidupan kita. Sinyal memiliki domain waktu,
maka kita harus memiliki manajemen waktu yang baik. Sinyal juga memiliki
domain frekuensi, apa yang harus kita lakukan? Dalam domain frekuensi
tadi, sinyal tersusun atas sinyal natural (sinusoidal) yang berbeda
frekuensi dan fasa, sehingga dalam waktu t tertentu, sinyal tersebut
sebenarnya terdiri atas beberapa sinyal lainnya. Begitu pula kita dalam
kehidupan. Pada suatu waktu t tertentu, mungkin tidak hanya satu
kegiatan yang kita lakukan. Oleh karena itu, untuk melengkapi manajemen
waktu, kita membutuhkan manajemen fokus. Jika kita sudah bisa
memilah-milah porsi waktu dari kegiatan kita sesuai prioritas, maka
pertanyaannya adalah sejauh mana kita optimal dalam waktu tersebut?
Sebagai
contoh, kita sudah menyiapkan dan mengosongkan waktu satu malam,
menolak traktiran teman, ga ikut futsal, untuk belajar ujian. Namun
ternyata dalam realisasinya, tab-tab facebook, kaskus, dll
lebih dominan mengisi malam itu dibandingkan belajar. Layaknya sinyal
noise begitu besar sehingga sinyal suara yang berisi informasi tertutup
begitu saja. Hal seperti ini pasti sering kita jumpai. Atau contoh
lainnya, pada masa ujian, kita harus menyiapkan sebuh kegiatan di
organisasi kemahasiswaan. Ketika kita sudah menyiapkan waktu untuk
berkumpul dan rapat bersama-sama, jangan sampai pikiran tentang ujian
mengganggu rapat atau bahkan kita datang rapat sambil membuka buku untuk
ujian. Rapat tidak optmal, belajar pun tidak mendapat apa-apa. Atau
sebaliknya, ketika sudah pulang ke rumah untuk belajar, jangan sampai
tugas organisasi mengganggu pikiran ketika belajar. Akhirnya ujian tidak
bisa, organisasi pun terbengkalai.
Inilah pentingnya
manajemen waktu dan mamanajemen fokus, bagaimana kita bisa membagi
kavling waktu ke setiap kuadran dengan bijak sesuai prioritas, dan
mengoptimalkan setiap kavling menjadi kebun-kebun yang berpohon besar
dan berbuah lebat. Optimal di setiap kegiatan yang kita ikuti, ’do the
best all the time!’
Mudah-mudahan tulisan ini bisa mengingatkan kembali kita untuk lebih bijak menghadapi kesibukan dan menggapai kesuksesan.
Saturday, September 14, 2013
[Fisika Sosial] Hukum Newton dalam Perjalanan Hidup Manusia
Hukum Newton
1. Jika resultan (jumlah total) Gaya yang bekerja pada sebuah benda adalah nol, maka benda tersebut akan tetap diam atau bergerak dengan kecepatan konstan.
Cara menangkapnya sederhana saja – pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang & sempit. Toples itu diisi kacang yg telah diberi aroma.
Tujuannya untuk mengundang monyet-monyet dtg. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dgn menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.
Para pemburu melakukannya disore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yg tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan.
Kok, bisa ?
Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yg keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yg ada di dalam.
Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya.
Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat.
Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana!
Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu.
Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sdg menertawakan diri sendiri.
Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu.
Kita mengenggam erat setiap permasalahan yg kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang.
Nah, oke, sekarang tinggal analogi dari hukum newton yang kedua. Sebenarnya analogi yang kedua ini simpel. Semakin berat bobot (kualitas) seseorang maka akan dibutuhkan gaya yang lebih untuk mempercepat gerakannya. Dalam sudut pandang yang lain, hal ini mirip juga dengan pepatah yang mengatakan bahwa semakin tinggi sebuah pohon maka semakin kencang angin yang menerpanya. Selain itu analogi hukum kedua ini juga bisa dipandang seperti ini, jika kita ‘memberikan’ bobot yang berat pada masalah kita maka akan semakin sulit bagi kita untuk mendorongnya supaya menjauh dari kita.
1. Jika resultan (jumlah total) Gaya yang bekerja pada sebuah benda adalah nol, maka benda tersebut akan tetap diam atau bergerak dengan kecepatan konstan.
(sumber gambar http://en.wikipedia.org/wiki/Newton%27s_laws_of_motion )
2. Percepatan yang dialami suatu benda akan searah dan berbanding lurus dengan Gaya yang dialaminya, serta berbanding terbalik dengan massanya. Bisa juga dikatakan bahwa total Gaya yang dialami merupakan turunan dari momentum linear benda tersebut terhadap waktu.

(sumber gambar http://en.wikipedia.org/wiki/Newton%27s_laws_of_motion )
3. Ketika benda pertama memberikan Gaya kepada benda kedua, benda kedua akan memberikan Gaya dengan besar yang sama namun dalam arah berlawanan kepada benda pertama.
Jadi secara kasar bisa dibilang bahwa Gaya adalah yang membuat sesuatu berubah. Sedikit catatan juga, Hukum Newton ini merupakan pendekatan yang bagus jika kecepatan yang terlibat jauh lebih kecil dari kecepatan cahaya. Jika kecepatannya lebih cepat dari kecepatan cahaya, konon katanya Teori Relativitas merupakan pendekatan yang lebih tepat.Fa,b adalah gaya-gaya yang bekerja pada A oleh B, dan Fb,a adalah gaya-gaya yang bekerja pada B oleh A.
Lalu, bagaimana analoginya dalam perjalanan hidup kita?
Tentu teman-teman pernah merasakan hal
seperti ini. Di tengah perjalanan hidup yang terlihat-lihat mulus saja,
kita merasa nyaman. Kita terbiasa untuk menjalani kebiasaan-kebiasaan
kita (entah itu baik entah itu buruk). Kita terbiasa dengan pola yang
ada dalam hidup kita, menghindari hal-hal yang kita takuti dan melakukan
hal-hal yang memang sudah menjadi rutinitas.
Sesungguhnya pada saat itulah hukum newton
pertama bekerja. Ketika kita terperangkap dalam pola tersebut,
sesungguhnya tidak ada Gaya atau semacam Dorongan yang bekerja pada diri
kita. Artinya ya kita hidup dalam diam atau dalam lembam. Atau dengan
kata lain tidak ada perkembangan.
Nah, tidak bisa dipungkiri, ketika akan
lebih mudah untuk berjalan seperti biasanya dengan arah yang sama sampai
akhirnya kita menabrak tembok. Seperti dalam hidup, akan lebih
mudah bagi kita untuk terjebak dalam zona nyaman sampai akhirnya ada
‘sesuatu’ yang menyentil atau mengingatkan kita. Sesuatu itu
bisa berupa permasalahan, musibah, atau kejutan hidup yang tak
terduga. Sakit sih memang, tapi dari situ kita banyak belajar.
Ketika hal itu terjadi, tak jarang kita justru terfokus pada tembok tersebut. Saat
hal itu terjadi kita justru lebih suka mengutuk masalah yang ada,
padahal hal itu justru menyebabkan masalah tersebut mengutuk kita,
seperti hukum newton yang ketiga. Padahal daripada
terus-terusan mendorong tembok (padahal temboknya juga mendorong/menahan
kita), bukankah lebih baik kita berjalan ke arah yang lain?
Oh iya,
saya jadi ingin berbagi sedikit apa yang saya lihat di newsfeed facebook
beberapa minggu lalu:
Di Afrika, teknik / cara berburu monyet
begitu unik. memungkinkan sipemburu menangkap monyet dalam keadaan
hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun.Cara menangkapnya sederhana saja – pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang & sempit. Toples itu diisi kacang yg telah diberi aroma.
Tujuannya untuk mengundang monyet-monyet dtg. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dgn menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.
Para pemburu melakukannya disore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yg tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan.
Kok, bisa ?
Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yg keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yg ada di dalam.
Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya.
Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat.
Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana!
Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu.
Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sdg menertawakan diri sendiri.
Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu.
Kita mengenggam erat setiap permasalahan yg kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang.
Kita sering menyimpan dendam, tak mudah
memberi maaf, tak mudah mengampuni. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi
bara amarah masih ada di dalam dada.
Kita tak pernah bisa melepasnya.?
Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi.
Dgn beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan.
Tanpa sadar, kita sebenarya sdg terperangkap penyakit kepahitan yg parah.?
Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya & kita pun akan selamat dari sakit hati jika sebelum matahari terbenam kita mau melepas semua perasaan negatif terhadap siapapun.
Selamat membuka genggaman tangan …!!:DKita tak pernah bisa melepasnya.?
Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi.
Dgn beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan.
Tanpa sadar, kita sebenarya sdg terperangkap penyakit kepahitan yg parah.?
Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya & kita pun akan selamat dari sakit hati jika sebelum matahari terbenam kita mau melepas semua perasaan negatif terhadap siapapun.
Nah, oke, sekarang tinggal analogi dari hukum newton yang kedua. Sebenarnya analogi yang kedua ini simpel. Semakin berat bobot (kualitas) seseorang maka akan dibutuhkan gaya yang lebih untuk mempercepat gerakannya. Dalam sudut pandang yang lain, hal ini mirip juga dengan pepatah yang mengatakan bahwa semakin tinggi sebuah pohon maka semakin kencang angin yang menerpanya. Selain itu analogi hukum kedua ini juga bisa dipandang seperti ini, jika kita ‘memberikan’ bobot yang berat pada masalah kita maka akan semakin sulit bagi kita untuk mendorongnya supaya menjauh dari kita.
Hukum Kelembaman dan Fisika Kehidupan
Pernahkah Anda bertanya kenapa ditinggal pergi orang yang kita cintai itu begitu sakit?
kenapa berpisah dengan orang tua setelah lama tinggal bersama mereka itu tidak enak?
kenapa putus cinta itu rasanya sakit sekali?
atau, kenapa sakaratul maut itu begitu sakit (katanya)?
#more
terdapat satu hukum fisika yang bekerja untuk semua benda di dunia ini. Hukum tersebut bernama hukum Kelembaman.
Hukum ini mengatakan bahwa segala sesuatu cenderung mempertahankan keadaannya semula. Kalau kita ingat dulu semasa kita SMA dulu kita sering melakukan eksperimen sederhana untuk membuktikan keberadaan hukum ini. Caranya adalah dengan kelereng yang diletakkan di atas sebuah kertas. Ketika kita mencoba menarik kertas tersebut dengan sangat cepat, maka kelereng tersebut tidak berpindah dari tempatnya. Ini membuktikan hukum kelembaman telah terjadi.
Lantas, jika benar hukum ini berlaku untuk semua benda di dunia, tidak terkecuali dengan kita manusia bukan?
Ya, menurut hemat saya, hukum ini juga berlaku untuk kita manusia.
Hal ini terlihat pada pertanyaan-pertanyaan yang saya sebutkan di awal tulisan ini.
Pernahkah Anda berpikir kenapa mati itu sangat sakit?
Dahi Rasulullah saja hingga berkeringat pada saat sakaratul maut. Padalah malaikat telah memperlakukan beliau dengan sangat lembut. Saking sakitnya sakaratul maut, Rasul yang sangat menyayangi ummatnya hingga berdoa kepada Allah supaya hanya beliau saja yang merasakan rasa sakit sakaratul maut ini. Beliau yang agung tidak ingin ummatnya merasakan sakit. Hal ini merupakan salah satu doa Rasul yang tidak dikabulkan oleh Allah SWT.
Sakitnya sakaratul maut adalah karena kita mengikuti hukum kelembaman. Tubuh dan ruh kita sudah terbiasa menyatu selama beberapa puluh tahun. Pada saat sakaratul maut, ruh kita dipaksa untuk keluar dari jasad yang telah menyatu dengannya selama puluhan tahun, apakah Anda dapat membayangkan sakitnya?
Sama halnya dengan perpisahan kita dari orang orang yang kita cintai. Ketika kita telah hidup bersama pasangan kita selama 40 tahun, lantas tiba tiba saja pasangan kita tersebut dipanggil untuk pulang ke hadirat Tuhan, diri kita akan bereaksi untuk mempertahankan keadaan kita semula. Sakit sekali pasti rasanya. Kita seakan tidak mampu menerima semuanya.
Maha suci Allah yang telah mengaruniakan sifat lupa dalam diri kita. Dengan sifat ini, kesedihan kita tidak akan berlangsung lama. Waktu akan berjalan, masa akan berlalu. Perlahan lahan rasa sakit ditinggalkan orang orang yang kita cintai pasti akan berkurang.
bagaimana pendapat Anda tentang hukum kelembaman ini?
kenapa berpisah dengan orang tua setelah lama tinggal bersama mereka itu tidak enak?
kenapa putus cinta itu rasanya sakit sekali?
atau, kenapa sakaratul maut itu begitu sakit (katanya)?
#more
terdapat satu hukum fisika yang bekerja untuk semua benda di dunia ini. Hukum tersebut bernama hukum Kelembaman.
Hukum ini mengatakan bahwa segala sesuatu cenderung mempertahankan keadaannya semula. Kalau kita ingat dulu semasa kita SMA dulu kita sering melakukan eksperimen sederhana untuk membuktikan keberadaan hukum ini. Caranya adalah dengan kelereng yang diletakkan di atas sebuah kertas. Ketika kita mencoba menarik kertas tersebut dengan sangat cepat, maka kelereng tersebut tidak berpindah dari tempatnya. Ini membuktikan hukum kelembaman telah terjadi.
Lantas, jika benar hukum ini berlaku untuk semua benda di dunia, tidak terkecuali dengan kita manusia bukan?
Ya, menurut hemat saya, hukum ini juga berlaku untuk kita manusia.
Hal ini terlihat pada pertanyaan-pertanyaan yang saya sebutkan di awal tulisan ini.
Pernahkah Anda berpikir kenapa mati itu sangat sakit?
Dahi Rasulullah saja hingga berkeringat pada saat sakaratul maut. Padalah malaikat telah memperlakukan beliau dengan sangat lembut. Saking sakitnya sakaratul maut, Rasul yang sangat menyayangi ummatnya hingga berdoa kepada Allah supaya hanya beliau saja yang merasakan rasa sakit sakaratul maut ini. Beliau yang agung tidak ingin ummatnya merasakan sakit. Hal ini merupakan salah satu doa Rasul yang tidak dikabulkan oleh Allah SWT.
Sakitnya sakaratul maut adalah karena kita mengikuti hukum kelembaman. Tubuh dan ruh kita sudah terbiasa menyatu selama beberapa puluh tahun. Pada saat sakaratul maut, ruh kita dipaksa untuk keluar dari jasad yang telah menyatu dengannya selama puluhan tahun, apakah Anda dapat membayangkan sakitnya?
Sama halnya dengan perpisahan kita dari orang orang yang kita cintai. Ketika kita telah hidup bersama pasangan kita selama 40 tahun, lantas tiba tiba saja pasangan kita tersebut dipanggil untuk pulang ke hadirat Tuhan, diri kita akan bereaksi untuk mempertahankan keadaan kita semula. Sakit sekali pasti rasanya. Kita seakan tidak mampu menerima semuanya.
Maha suci Allah yang telah mengaruniakan sifat lupa dalam diri kita. Dengan sifat ini, kesedihan kita tidak akan berlangsung lama. Waktu akan berjalan, masa akan berlalu. Perlahan lahan rasa sakit ditinggalkan orang orang yang kita cintai pasti akan berkurang.
bagaimana pendapat Anda tentang hukum kelembaman ini?
FORMASI CPNS KABUPATEN PAMEKASAN
Info tentang formasi CPNS kabupaten pamekasan. Bagi yang membutuhkan silahkan DOWNLOAD
Wednesday, August 21, 2013
Antara Mistik dan Ilmiah
Ada hal-hal ajaib pada masa lalu yang kini telah menjadi hal biasa.
Telepon genggam, teleconferencing, penerbangan antar benua, satelit
cuaca, robot, teknologi laser, adalah contohnya. Saat ini, masih banyak
hal-hal aneh dan gaib yang masih tetap misterius tanpa bisa dijelaskan
oleh logika. Karomah para wali yang membuat mereka bisa berada di dua
tempat pada saat yang sama, kesaktian kiai yang bisa membaca niat
pikiran tamu yang menghadap, para pendeta Budhha di Tibet yang bisa
melayang 50 cm di udara ketika bersemedi, dukun Voodoo Afrika yang bisa
membuat orang di seberang lautan menjerit kesakitan, dan praktek-praktek
gaib lainnya di berbagai pelosok dunia, memperagakan hal-hal yang tidak
dipahami akal saat ini. Karena tidak bisa dimasukkan ke dalam
cabang-cabang ilmu pengetahuan normal yang ada, maka hal semacam itu
disebut paranormal.
Peter Lorie dan Sid Murray Clark, dua orang futurologis, meramalkan dalam bukunya History of the Future, bahwa 600 tahun kedepan, manusia akan mengadopsi mistik dan magic sebagai suatu realita dan merupakan sisi lain dari gejala ilmiah dalam kehidupan alam ini. Ilmu tentang itu akan disebut magicology, miracology, dan divinology, yang berdampingan dengan ilmu pengetahuan konvensionil. Kecenderungan ke arah sana sudah berlangsung. Ada penelitian tentang Extra Sensory Perception (ESP) yang mendalami kemampuan mengetahui benda di ruang lain hanya dengan “merasa”. Ada ilmu telepati yang menelusuri kemampuan berkomunikasi tanpa alat. Ada ilmu tele-kinetik yang bisa membengkokkan garpu dari jarak jauh. Manusia akan menyadari bahwa tidak semua benda harus berperilaku sesuai dengan ilmu pengetahuan yang berlaku. Sebenarnya tidak usah menunggu enam abad lagi, Islam sudah sejak awal menetapkan bahwa percaya pada yang gaib adalah syarat menjadi orang bertakwa. Keutamaan ilmu dalam Islam tidak hanya merujuk pada ilmu sains teknologi modern saja, tetapi meliputi ilmu dalam segala dimensi yang sudah maupun yang belum ditemukan.
Saat ini, beberapa hal ajaib dan mistik mulai bisa dijelaskan secara ilmiah. Prof. Ir. Lilik Hendrajaya, M.Sc, Ph.D, mantan Rektor ITB, berhasil menjelaskan secara teori ilmu fisika tentang fenomena penumpukkan energi melalui latihan pernafasan. Tenaga yang didapat dengan menahan nafas bisa disalurkan secara ajaib sehingga membuat musuh terpental tanpa disentuh. Tenaga itu juga bisa dipakai untuk mendiagnosa penyakit melalui telepon.
Banyak orang yang menyangka bahwa itu adalah ilmu gaib, mistik, dan meminta bantuan Jin. Tetapi beliau secara ilmiah menguraikan bahwa darah manusia tersusun dari atom oksigen (02) dan atom besi (Fe). Pada waktu bernafas biasa, oksigen jumlahnya berlimpah dalam paru-paru dan molekul darah dengan mudah menyerapnya tanpa melakukan pengaturan apa-apa. Tetapi sewaktu nafas ditahan, cadangan oksigen dalam paru-paru secara berangsur-angsur berkurang diserap oleh darah yang terus mengalir. Supaya tetap mendapatkan kadar oksigen sejumlah yang diperlukan, molekul darah (hemoglobin) mengatur diri “berbaris” secara serial dengan urutan: atom besi (Fe) — rantai protein — atom besi (Fe) — rantai protein, dan seterusnya. Akibatnya, darah di dalam pembuluh darah akan membentuk barisan simetris. Posisi ini akan memudahkan proses pengikatan oksigen dan oksidasi. Atom besi –yang bersifat paramagnetik dan ferromagnetik– dalam hemoglobin yang tersusun simetris tadi, membuat darah menjadi bersifat magnetik teratur atau disebut terpolarisasi magnetik. Fenomena yang dihasilkan antara lain:
1. Tubuh manusia menjadi mengeluarkan medan magnet dan memiliki dua kutub, kutub utara dan kutub selatan.
2. Darah bermagnet yang mengalir menimbulkan medan magnet yang dinamik, yaitu memancarkan gelombang elektromagnet.
Pancaran medan magnet dari tubuh orang tersebut akan berinteraksi dengan medan magnet bumi, maupun dengan medan magnet yang berasal dari orang lain. Selanjutnya jika dua kutub yang terpancar searah dengan medan magnet luar, orang tersebut akan terdorong maju atau ke belakang. Sedangkan jika membentuk sudut dengan arah medan magnet luar, orang tersebut akan terputar. Medan magnet yang dipancarkan bisa menginduksi, mengimbas orang lain, sehingga tampak seperti menyedot atau memutar tubuh orang lain tanpa menyentuhnya. Hal ini juga bisa terjadi dalam praktek penyembuhan orang lain.
Pancaran gelombang elektromagnetik dari tubuh seseorang yang darahnya terpolarisasi, menghasilkan pancaran tenaga (panas) dan aura. Pancaran ini dapat “dilihat” oleh orang lain melalui suatu “tuning” yaitu interferensi dan resonansi dari dua gelombang yang berasal dari kedua orang tadi ketika frekuensinya sama. Interferensi ini menjadi jalan masuknya informasi antar kedua orang tadi. Bila jaraknya jauh, disebut telepati. Sedangkan fenomena biologis akibat terpolarisasinya darah adalah antara lain:
1. Darah yang molekulnya teratur, terpolarisasi, akan mudah dioksidasi, dibersihkan dari sel-sel asing dan sel-sel organ tubuh yang rusak akan mudah dibangun kembali dengan sari makanan yang dibawa oleh darah. Ini berarti lancarnya metabolisme. Darah yang tidak terpolarisasi, susunannya tidak teratur dan disela-selanya sering bersarang sel-sel asing, bakteri, virus sehingga sukar dioksidasi.
2. Debu elektrostatik dari luar tubuh, terutama debu virus atau kuman penyakit akan terlempar sebelum menyentuh tubuh, karena ditolak oleh medan magnet tubuh.
Secara fisika, suatu medan magnet terpolarisasi yang mengandung energi dan informasi dapat disimpan dalam zat yang juga magnetik. Contohnya penyimpanan data dalam pita kaset musik, disket komputer, compact disk, dsb. Penyimpanan tenaga dalam dapat bersifat sementara maupun permanen. Prosesnya berlangsung dengan jalan pengimbasan pada zat magnetik melalui kekuatan pikiran. Adapun zat magnetik yang baik untuk penyimpanan tersebut antara lain oksigen (02), darah, tanah liat, kristal, logam kelompok besi, kumparan logam (solenoid) dan air (H20).
Peter Lorie dan Sid Murray Clark, dua orang futurologis, meramalkan dalam bukunya History of the Future, bahwa 600 tahun kedepan, manusia akan mengadopsi mistik dan magic sebagai suatu realita dan merupakan sisi lain dari gejala ilmiah dalam kehidupan alam ini. Ilmu tentang itu akan disebut magicology, miracology, dan divinology, yang berdampingan dengan ilmu pengetahuan konvensionil. Kecenderungan ke arah sana sudah berlangsung. Ada penelitian tentang Extra Sensory Perception (ESP) yang mendalami kemampuan mengetahui benda di ruang lain hanya dengan “merasa”. Ada ilmu telepati yang menelusuri kemampuan berkomunikasi tanpa alat. Ada ilmu tele-kinetik yang bisa membengkokkan garpu dari jarak jauh. Manusia akan menyadari bahwa tidak semua benda harus berperilaku sesuai dengan ilmu pengetahuan yang berlaku. Sebenarnya tidak usah menunggu enam abad lagi, Islam sudah sejak awal menetapkan bahwa percaya pada yang gaib adalah syarat menjadi orang bertakwa. Keutamaan ilmu dalam Islam tidak hanya merujuk pada ilmu sains teknologi modern saja, tetapi meliputi ilmu dalam segala dimensi yang sudah maupun yang belum ditemukan.
Saat ini, beberapa hal ajaib dan mistik mulai bisa dijelaskan secara ilmiah. Prof. Ir. Lilik Hendrajaya, M.Sc, Ph.D, mantan Rektor ITB, berhasil menjelaskan secara teori ilmu fisika tentang fenomena penumpukkan energi melalui latihan pernafasan. Tenaga yang didapat dengan menahan nafas bisa disalurkan secara ajaib sehingga membuat musuh terpental tanpa disentuh. Tenaga itu juga bisa dipakai untuk mendiagnosa penyakit melalui telepon.
Banyak orang yang menyangka bahwa itu adalah ilmu gaib, mistik, dan meminta bantuan Jin. Tetapi beliau secara ilmiah menguraikan bahwa darah manusia tersusun dari atom oksigen (02) dan atom besi (Fe). Pada waktu bernafas biasa, oksigen jumlahnya berlimpah dalam paru-paru dan molekul darah dengan mudah menyerapnya tanpa melakukan pengaturan apa-apa. Tetapi sewaktu nafas ditahan, cadangan oksigen dalam paru-paru secara berangsur-angsur berkurang diserap oleh darah yang terus mengalir. Supaya tetap mendapatkan kadar oksigen sejumlah yang diperlukan, molekul darah (hemoglobin) mengatur diri “berbaris” secara serial dengan urutan: atom besi (Fe) — rantai protein — atom besi (Fe) — rantai protein, dan seterusnya. Akibatnya, darah di dalam pembuluh darah akan membentuk barisan simetris. Posisi ini akan memudahkan proses pengikatan oksigen dan oksidasi. Atom besi –yang bersifat paramagnetik dan ferromagnetik– dalam hemoglobin yang tersusun simetris tadi, membuat darah menjadi bersifat magnetik teratur atau disebut terpolarisasi magnetik. Fenomena yang dihasilkan antara lain:
1. Tubuh manusia menjadi mengeluarkan medan magnet dan memiliki dua kutub, kutub utara dan kutub selatan.
2. Darah bermagnet yang mengalir menimbulkan medan magnet yang dinamik, yaitu memancarkan gelombang elektromagnet.
Pancaran medan magnet dari tubuh orang tersebut akan berinteraksi dengan medan magnet bumi, maupun dengan medan magnet yang berasal dari orang lain. Selanjutnya jika dua kutub yang terpancar searah dengan medan magnet luar, orang tersebut akan terdorong maju atau ke belakang. Sedangkan jika membentuk sudut dengan arah medan magnet luar, orang tersebut akan terputar. Medan magnet yang dipancarkan bisa menginduksi, mengimbas orang lain, sehingga tampak seperti menyedot atau memutar tubuh orang lain tanpa menyentuhnya. Hal ini juga bisa terjadi dalam praktek penyembuhan orang lain.
Pancaran gelombang elektromagnetik dari tubuh seseorang yang darahnya terpolarisasi, menghasilkan pancaran tenaga (panas) dan aura. Pancaran ini dapat “dilihat” oleh orang lain melalui suatu “tuning” yaitu interferensi dan resonansi dari dua gelombang yang berasal dari kedua orang tadi ketika frekuensinya sama. Interferensi ini menjadi jalan masuknya informasi antar kedua orang tadi. Bila jaraknya jauh, disebut telepati. Sedangkan fenomena biologis akibat terpolarisasinya darah adalah antara lain:
1. Darah yang molekulnya teratur, terpolarisasi, akan mudah dioksidasi, dibersihkan dari sel-sel asing dan sel-sel organ tubuh yang rusak akan mudah dibangun kembali dengan sari makanan yang dibawa oleh darah. Ini berarti lancarnya metabolisme. Darah yang tidak terpolarisasi, susunannya tidak teratur dan disela-selanya sering bersarang sel-sel asing, bakteri, virus sehingga sukar dioksidasi.
2. Debu elektrostatik dari luar tubuh, terutama debu virus atau kuman penyakit akan terlempar sebelum menyentuh tubuh, karena ditolak oleh medan magnet tubuh.
Secara fisika, suatu medan magnet terpolarisasi yang mengandung energi dan informasi dapat disimpan dalam zat yang juga magnetik. Contohnya penyimpanan data dalam pita kaset musik, disket komputer, compact disk, dsb. Penyimpanan tenaga dalam dapat bersifat sementara maupun permanen. Prosesnya berlangsung dengan jalan pengimbasan pada zat magnetik melalui kekuatan pikiran. Adapun zat magnetik yang baik untuk penyimpanan tersebut antara lain oksigen (02), darah, tanah liat, kristal, logam kelompok besi, kumparan logam (solenoid) dan air (H20).
Saturday, June 22, 2013
Tuesday, May 14, 2013
Gaya Konservatif dan Gaya Tak konservatif
Mari kita berkenalan dengan gaya konservatif dan gaya
tak-konservatif. Setelah mempelajari pembahasan ini, mudah-mudahan
dirimu dapat membedakan gaya konservatif dan gaya tak konservatif.
Pemahaman akan gaya konservatif dan tak konservatif sangat diperlukan
karena konsep ini sangat berkaitan dengan Hukum Kekekalan Energi
Mekanik. Langsung aja ya ? tetap semangat……
Misalnya kita melemparkan sebuah benda tegak lurus ke atas. Setelah bergerak ke atas mencapai ketinggian maksimum, benda akan jatuh tegak lurus ke tanah (tangan kita). Ketika dilemparkan ke atas, benda tersebut bergerak dengan kecepatan tertentu sehingga ia memiliki energi kinetik (EK = ½ mv2). Selama bergerak di udara, terjadi perubahan energi kinetik menjadi energi potensial. Semakin ke atas, kecepatan bola makin kecil, sedangkan jarak benda dari tanah makin besar sehingga EK benda menjadi kecil dan EP-nya bertambah besar.
Ketika mencapai titik tertinggi, kecepatan benda = 0, sehingga EK juga bernilai nol. EK benda seluruhnya berubah menjadi EP, karena ketika benda mencapai ketinggian maksimum, jarak vertikal benda bernilai maksimum (EP = mgh). Karena pengaruh gravitasi, benda tersebut bergerak kembali ke bawah. Sepanjang lintasan terjadi perubahan EP menjadi EK. Semakin ke bawah, EP semakin berkurang, sedangkan EK semakin bertambah. EP berkurang karena ketika jatuh, ketinggian alias jarak vertikal makin kecil. EK bertambah karena ketika bergerak ke bawah, kecepatan benda makin besar akibat adanya percepatan gravitasi yang bernilai tetap. Kecepatan benda bertambah secara teratur akibat adanya percepatan gravitasi. Benda kehilangan EK selama bergerak ke atas, tetapi EK diperoleh kembali ketika bergerak ke bawah. Energi kinetik diartikan sebagai kemampuan melakukan usaha. Karena Energi kinetik benda tetap maka kita dapat mengatakan bahwa kemampuan benda untuk melakukan usaha juga bernilai tetap. Gaya gravitasi yang mempengaruhi gerakan benda, baik ketika benda bergerak ke atas maupun ketika benda bergerak ke bawah dikatakan bersifat konservatif karena pengaruh gaya tersebut tidak bergantung pada lintasan yang dilalui benda, tetapi hanya bergantung pada posisi awal dan akhir benda.
Contoh gaya konservatif lain adalah gaya elastik. Misalnya kita letakan sebuah pegas di atas permukaan meja percobaan. Salah satu ujung pegas telah diikat pada dinding, sehingga pegas tidak bergeser ketika digerakan. Anggap saja permukaan meja sangat licin dan pegas yang kita gunakan adalah pegas ideal sehingga memenuhi hukum Hooke. Sekarang kita kaitkan sebuah benda pada salah satu ujung pegas.
Jika benda kita tarik ke kanan sehingga pegas teregang sejauh x, maka pada benda bekerja gaya pemulih pegas, yang arahnya berlawanan dengan arah tarikan kita. Ketika benda berada pada simpangan x, EP benda maksimum sedangkan EK benda nol (benda masih diam).
Ketika benda kita lepaskan, gaya pemulih pegas menggerakan benda ke kiri, kembali ke posisi setimbangnya. EP benda menjadi berkurang dan menjadi nol ketika benda berada pada posisi setimbangnya. Selama bergerak menuju posisi setimbang, EP berubah menjadi EK. Ketika benda kembali ke posisi setimbangnya, gaya pemulih pegas bernilai nol tetapi pada titik ini kecepatan benda maksimum. Karena kecepatannya maksimum, maka ketika berada pada posisi setimbang, EK bernilai maksimum.
Benda masih terus bergerak ke kiri karena ketika berada pada posisi setimbang, kecepatan benda maksimum. Ketika bergerak ke kiri, Gaya pemulih pegas menarik benda kembali ke posisi setimbang, sehingga benda berhenti sesaat pada simpangan sejauh -x dan bergerak kembali menuju posisi setimbang. Ketika benda berada pada simpangan sejauh -x, EK benda = 0 karena kecepatan benda = 0. pada posisi ini EP bernilai maksimum.
Proses perubahan energi antara EK dan EP berlangsung terus menerus selama benda bergerak bolak balik.
Pada penjelasan di atas, tampak bahwa ketika bergerak dari posisi setimbang menuju ke kiri sejauh x = -A (A = amplitudo / simpangan terjauh), kecepatan benda menjadi berkurang dan bernilai nol ketika benda tepat berada pada x = -A. Karena kecepatan benda berkurang, maka EK benda juga berkurang dan bernilai nol ketika benda berada pada x = -A. Karena adanya gaya pemulih pegas yang menarik benda kembali ke kanan (menuju posisi setimbang), benda memperoleh kecepatan dan Energi Kinetiknya lagi. EK benda bernilai maksimum ketika benda tepat berada pada x = 0, karena laju gerak benda pada posisi tersebut bernilai maksimum. Benda kehilangan EK pada salah satu bagian geraknya, tetapi memperoleh Energi Kinetiknya kembali pada bagian geraknya lain. Energi kinetik merupaka kemampuan melakukan usaha karena adanya gerak. setelah bergerak bolak balik, kemampuan melakukan usahanya tetap sama dan besarnya tetap alias kekal. Gaya elastis yang dilakukan pegas ini disebut bersifat konservatif.
Apabila pada suatu benda bekerja satu atau lebih gaya dan ketika benda bergerak kembali ke posisi semula, Energi Kinetik-nya berubah (bertambah atau berkurang), maka kemampuan melakukan usahanya juga berubah. Dalam hal ini, kemampuan melakukan usahanya tidak kekal. Dapat dipastikan, salah satu gaya yang bekerja pada benda bersifat tak-konservatif. Untuk menambah pemahaman anda berkaitan dengan gaya tak konservatif, kita umpamakan permukaan meja tidak licin / kasar, sehingga selain gaya pegas, pada benda bekerja juga gaya gesekan. Ketika benda bergerak akibat adanya gaya pemulih pegas, gaya gesekan menghambat gerakan benda/mengurangi kecepatan benda (gaya gesek berlawanan arah dengan gaya pemulih pegas). Akibat adanya gaya gesek, ketika kembali ke posisi semula kecepatan benda menjadi berkurang. Karena kecepatan benda berkurang maka Energi Kinetiknya juga berkurang. Karena Energi Kinetik benda berkurang maka kemampuan melakukan usaha juga berkurang. Dari penjelasan di atas kita tahu bahwa gaya pegas bersifat konservatif sehingga berkurangnya EK pasti disebabkan oleh gaya gesekan. Kita dapat menyatakan bahwa gaya yang berlaku demikian bersifat tak-konservatif. Perlu anda ketahui juga bahwa selain gaya pemulih pegas dan gaya gesekan, pada benda bekerja juga gaya berat dan gaya normal. Arah gaya berat dan gaya normal tegak lurus arah gerakan benda, sehingga bernilai nol (ingat kembali pembahasan mengenai usaha yang telah dimuat pada blog ini).
Secara umum, sebuah gaya bersifat konservatif apabila usaha yang dilakukan oleh gaya pada sebuah benda yang melakukan gerakan menempuh lintasan tertentu hingga kembali ke posisi awalnya sama dengan nol. Sebuah gaya bersifat tak-konservatif apabila usaha yang dilakukan oleh gaya tersebut pada sebuah benda yang melakukan gerakan menempuh lintasan tertentu hingga kembali ke posisi semula tidak sama dengan nol.
Penjelasan panjang lebar mengenai gaya konservatif dan gaya tak konservatif di atas bertujuan untuk membantu anda lebih memahami Hukum Kekekalan Energi Mekanik. Mengenai gaya konservatif dan gaya tak konservatif, selengkapnya dapat anda pelajari pada jenjang yang lebih tinggi (universitas dan kawan-kawan).
Sekarang, mari kita kembali ke Hukum Kekekalan Energi Mekanik. Istirahat aja dulu ah, cape…
Apabila hanya gaya-gaya konservatif yang bekerja pada sebuah sistem, maka kita akan tiba pada kesimpulan yang sangat sederhana dan menarik yang melibatkan energi…. Apabila tidak ada gaya tak-konservatif, maka berlaku Hukum Kekekalan Energi Mekanik. Sekarang mari kita turunkan persamaan Hukum Kekekalan Energi Mekanik…..
Misalnya sebuah benda bermassa m berada pada kedudukan awal sejauh h1 dari permukaan tanah (amati gambar di bawah). Benda tersebut jatuh dan setelah beberapa saat benda berada pada kedudukan akhir (h2). Benda jatuh karena pada benda bekerja gaya berat (gaya berat = gaya gravitasi yang bekerja pada benda, di mana arahnya tegak lurus menuju permukaan bumi).
Ketika berada pada kedudukan awal, benda memiliki Energi Potensial sebesar EP1 (EP1 = mgh1). Ketika berada pada kedudukan awal, benda memiliki Energi Potensial sebesar EP2 (EP2 = mgh2). Usaha yang dilakukan oleh gaya berat (w = weight = berat — huruf w kecil. Kalo huruf W besar = usaha = work) dari kedudukan awal (h1) menuju kedudukan akhir (h2) sama dengan selisih EP1 dan EP2. Secara matematis ditulis :
W = EP1 – EP2 = mgh1 – mgh2
Misalnya kecepatan benda pada kedudukan awal = v1 dan kecepatan benda pada kedudukan akhir = v2.. Pada kedudukan awal, benda memiliki Energi Kinetik sebesar EK1 (EK1 = ½ mv12). Pada kedudukan akhir, benda memiliki Energi Kinetik sebesar EK2 (EK2 = ½ mv22). Usaha yang dilakukan oleh gaya berat untuk menggerakan benda sama dengan perubahan energi kinetik (sesuai dengan prinsip usaha dan energi yang telah dibahas pada pokok bahasan usaha dan energi-materinya ada di blog ini). Secara matematis ditulis :
W = EK2 – EK1 = ½ mv22 – ½ mv12
Kedua persamaan ini kita tulis kembali menjadi :
W = W
EP1 – EP2 = EK2 – EK1
mgh1 – mgh2 = ½ mv22 – ½ mv12
mgh1 + ½ mv12 = mgh2 + ½ mv22
Jumlah total Energi Potensial (EP) dan Energi Kinetik (EK) = Energi Mekanik (EM). Secara matematis kita tulis :
EM = EP + EK
Ketika benda berada pada kedudukan awal (h1), Energi Mekanik benda adalah :
EM1 = EP1 + EK1
Ketika benda berada pada kedudukan akhir (h2), Energi Mekanik benda adalah :
EM2 = EP2 + EK2
Apabila tidak ada gaya tak-konservatif yang bekerja pada benda, maka Energi Mekanik benda pada posisi awal sama dengan Energi Mekanik benda pada posisi akhir. Secara matematis kita tulis :
EM1 = EM2
Jumlah Energi Mekanik benda ketika berada pada kedudukan awal = jumlah Energi Mekanik benda ketika berada pada kedudukan akhir. Dengan kata lain, apabila Energi Kinetik benda bertambah maka Energi Potensial harus berkurang dengan besar yang sama untuk mengimbanginya. Sebaliknya, jika Energi Kinetik benda
berkurang, maka Energi Potensial harus bertambah dengan besar yang sama. Dengan demikian, jumlah total EP + EK (= Energi Mekanik) bernilai tetap alias kekal bin konstan Ini adalah Hukum Kekekalan Energi Mekanik untuk gaya-gaya konservatif.
Apabila hanya gaya-gaya konservatif yang bekerja, maka jumlah total Energi Mekanik pada sebuah sistem tidak berkurang atau bertambah. Energi Mekanik bernilai tetap atau kekal.
Misalnya kita melemparkan sebuah benda tegak lurus ke atas. Setelah bergerak ke atas mencapai ketinggian maksimum, benda akan jatuh tegak lurus ke tanah (tangan kita). Ketika dilemparkan ke atas, benda tersebut bergerak dengan kecepatan tertentu sehingga ia memiliki energi kinetik (EK = ½ mv2). Selama bergerak di udara, terjadi perubahan energi kinetik menjadi energi potensial. Semakin ke atas, kecepatan bola makin kecil, sedangkan jarak benda dari tanah makin besar sehingga EK benda menjadi kecil dan EP-nya bertambah besar.
Ketika mencapai titik tertinggi, kecepatan benda = 0, sehingga EK juga bernilai nol. EK benda seluruhnya berubah menjadi EP, karena ketika benda mencapai ketinggian maksimum, jarak vertikal benda bernilai maksimum (EP = mgh). Karena pengaruh gravitasi, benda tersebut bergerak kembali ke bawah. Sepanjang lintasan terjadi perubahan EP menjadi EK. Semakin ke bawah, EP semakin berkurang, sedangkan EK semakin bertambah. EP berkurang karena ketika jatuh, ketinggian alias jarak vertikal makin kecil. EK bertambah karena ketika bergerak ke bawah, kecepatan benda makin besar akibat adanya percepatan gravitasi yang bernilai tetap. Kecepatan benda bertambah secara teratur akibat adanya percepatan gravitasi. Benda kehilangan EK selama bergerak ke atas, tetapi EK diperoleh kembali ketika bergerak ke bawah. Energi kinetik diartikan sebagai kemampuan melakukan usaha. Karena Energi kinetik benda tetap maka kita dapat mengatakan bahwa kemampuan benda untuk melakukan usaha juga bernilai tetap. Gaya gravitasi yang mempengaruhi gerakan benda, baik ketika benda bergerak ke atas maupun ketika benda bergerak ke bawah dikatakan bersifat konservatif karena pengaruh gaya tersebut tidak bergantung pada lintasan yang dilalui benda, tetapi hanya bergantung pada posisi awal dan akhir benda.
Contoh gaya konservatif lain adalah gaya elastik. Misalnya kita letakan sebuah pegas di atas permukaan meja percobaan. Salah satu ujung pegas telah diikat pada dinding, sehingga pegas tidak bergeser ketika digerakan. Anggap saja permukaan meja sangat licin dan pegas yang kita gunakan adalah pegas ideal sehingga memenuhi hukum Hooke. Sekarang kita kaitkan sebuah benda pada salah satu ujung pegas.
Jika benda kita tarik ke kanan sehingga pegas teregang sejauh x, maka pada benda bekerja gaya pemulih pegas, yang arahnya berlawanan dengan arah tarikan kita. Ketika benda berada pada simpangan x, EP benda maksimum sedangkan EK benda nol (benda masih diam).
Ketika benda kita lepaskan, gaya pemulih pegas menggerakan benda ke kiri, kembali ke posisi setimbangnya. EP benda menjadi berkurang dan menjadi nol ketika benda berada pada posisi setimbangnya. Selama bergerak menuju posisi setimbang, EP berubah menjadi EK. Ketika benda kembali ke posisi setimbangnya, gaya pemulih pegas bernilai nol tetapi pada titik ini kecepatan benda maksimum. Karena kecepatannya maksimum, maka ketika berada pada posisi setimbang, EK bernilai maksimum.
Benda masih terus bergerak ke kiri karena ketika berada pada posisi setimbang, kecepatan benda maksimum. Ketika bergerak ke kiri, Gaya pemulih pegas menarik benda kembali ke posisi setimbang, sehingga benda berhenti sesaat pada simpangan sejauh -x dan bergerak kembali menuju posisi setimbang. Ketika benda berada pada simpangan sejauh -x, EK benda = 0 karena kecepatan benda = 0. pada posisi ini EP bernilai maksimum.
Proses perubahan energi antara EK dan EP berlangsung terus menerus selama benda bergerak bolak balik.
Pada penjelasan di atas, tampak bahwa ketika bergerak dari posisi setimbang menuju ke kiri sejauh x = -A (A = amplitudo / simpangan terjauh), kecepatan benda menjadi berkurang dan bernilai nol ketika benda tepat berada pada x = -A. Karena kecepatan benda berkurang, maka EK benda juga berkurang dan bernilai nol ketika benda berada pada x = -A. Karena adanya gaya pemulih pegas yang menarik benda kembali ke kanan (menuju posisi setimbang), benda memperoleh kecepatan dan Energi Kinetiknya lagi. EK benda bernilai maksimum ketika benda tepat berada pada x = 0, karena laju gerak benda pada posisi tersebut bernilai maksimum. Benda kehilangan EK pada salah satu bagian geraknya, tetapi memperoleh Energi Kinetiknya kembali pada bagian geraknya lain. Energi kinetik merupaka kemampuan melakukan usaha karena adanya gerak. setelah bergerak bolak balik, kemampuan melakukan usahanya tetap sama dan besarnya tetap alias kekal. Gaya elastis yang dilakukan pegas ini disebut bersifat konservatif.
Apabila pada suatu benda bekerja satu atau lebih gaya dan ketika benda bergerak kembali ke posisi semula, Energi Kinetik-nya berubah (bertambah atau berkurang), maka kemampuan melakukan usahanya juga berubah. Dalam hal ini, kemampuan melakukan usahanya tidak kekal. Dapat dipastikan, salah satu gaya yang bekerja pada benda bersifat tak-konservatif. Untuk menambah pemahaman anda berkaitan dengan gaya tak konservatif, kita umpamakan permukaan meja tidak licin / kasar, sehingga selain gaya pegas, pada benda bekerja juga gaya gesekan. Ketika benda bergerak akibat adanya gaya pemulih pegas, gaya gesekan menghambat gerakan benda/mengurangi kecepatan benda (gaya gesek berlawanan arah dengan gaya pemulih pegas). Akibat adanya gaya gesek, ketika kembali ke posisi semula kecepatan benda menjadi berkurang. Karena kecepatan benda berkurang maka Energi Kinetiknya juga berkurang. Karena Energi Kinetik benda berkurang maka kemampuan melakukan usaha juga berkurang. Dari penjelasan di atas kita tahu bahwa gaya pegas bersifat konservatif sehingga berkurangnya EK pasti disebabkan oleh gaya gesekan. Kita dapat menyatakan bahwa gaya yang berlaku demikian bersifat tak-konservatif. Perlu anda ketahui juga bahwa selain gaya pemulih pegas dan gaya gesekan, pada benda bekerja juga gaya berat dan gaya normal. Arah gaya berat dan gaya normal tegak lurus arah gerakan benda, sehingga bernilai nol (ingat kembali pembahasan mengenai usaha yang telah dimuat pada blog ini).
Secara umum, sebuah gaya bersifat konservatif apabila usaha yang dilakukan oleh gaya pada sebuah benda yang melakukan gerakan menempuh lintasan tertentu hingga kembali ke posisi awalnya sama dengan nol. Sebuah gaya bersifat tak-konservatif apabila usaha yang dilakukan oleh gaya tersebut pada sebuah benda yang melakukan gerakan menempuh lintasan tertentu hingga kembali ke posisi semula tidak sama dengan nol.
Penjelasan panjang lebar mengenai gaya konservatif dan gaya tak konservatif di atas bertujuan untuk membantu anda lebih memahami Hukum Kekekalan Energi Mekanik. Mengenai gaya konservatif dan gaya tak konservatif, selengkapnya dapat anda pelajari pada jenjang yang lebih tinggi (universitas dan kawan-kawan).
Sekarang, mari kita kembali ke Hukum Kekekalan Energi Mekanik. Istirahat aja dulu ah, cape…
Apabila hanya gaya-gaya konservatif yang bekerja pada sebuah sistem, maka kita akan tiba pada kesimpulan yang sangat sederhana dan menarik yang melibatkan energi…. Apabila tidak ada gaya tak-konservatif, maka berlaku Hukum Kekekalan Energi Mekanik. Sekarang mari kita turunkan persamaan Hukum Kekekalan Energi Mekanik…..
Misalnya sebuah benda bermassa m berada pada kedudukan awal sejauh h1 dari permukaan tanah (amati gambar di bawah). Benda tersebut jatuh dan setelah beberapa saat benda berada pada kedudukan akhir (h2). Benda jatuh karena pada benda bekerja gaya berat (gaya berat = gaya gravitasi yang bekerja pada benda, di mana arahnya tegak lurus menuju permukaan bumi).
Ketika berada pada kedudukan awal, benda memiliki Energi Potensial sebesar EP1 (EP1 = mgh1). Ketika berada pada kedudukan awal, benda memiliki Energi Potensial sebesar EP2 (EP2 = mgh2). Usaha yang dilakukan oleh gaya berat (w = weight = berat — huruf w kecil. Kalo huruf W besar = usaha = work) dari kedudukan awal (h1) menuju kedudukan akhir (h2) sama dengan selisih EP1 dan EP2. Secara matematis ditulis :
W = EP1 – EP2 = mgh1 – mgh2
Misalnya kecepatan benda pada kedudukan awal = v1 dan kecepatan benda pada kedudukan akhir = v2.. Pada kedudukan awal, benda memiliki Energi Kinetik sebesar EK1 (EK1 = ½ mv12). Pada kedudukan akhir, benda memiliki Energi Kinetik sebesar EK2 (EK2 = ½ mv22). Usaha yang dilakukan oleh gaya berat untuk menggerakan benda sama dengan perubahan energi kinetik (sesuai dengan prinsip usaha dan energi yang telah dibahas pada pokok bahasan usaha dan energi-materinya ada di blog ini). Secara matematis ditulis :
W = EK2 – EK1 = ½ mv22 – ½ mv12
Kedua persamaan ini kita tulis kembali menjadi :
W = W
EP1 – EP2 = EK2 – EK1
mgh1 – mgh2 = ½ mv22 – ½ mv12
mgh1 + ½ mv12 = mgh2 + ½ mv22
Jumlah total Energi Potensial (EP) dan Energi Kinetik (EK) = Energi Mekanik (EM). Secara matematis kita tulis :
EM = EP + EK
Ketika benda berada pada kedudukan awal (h1), Energi Mekanik benda adalah :
EM1 = EP1 + EK1
Ketika benda berada pada kedudukan akhir (h2), Energi Mekanik benda adalah :
EM2 = EP2 + EK2
Apabila tidak ada gaya tak-konservatif yang bekerja pada benda, maka Energi Mekanik benda pada posisi awal sama dengan Energi Mekanik benda pada posisi akhir. Secara matematis kita tulis :
EM1 = EM2
Jumlah Energi Mekanik benda ketika berada pada kedudukan awal = jumlah Energi Mekanik benda ketika berada pada kedudukan akhir. Dengan kata lain, apabila Energi Kinetik benda bertambah maka Energi Potensial harus berkurang dengan besar yang sama untuk mengimbanginya. Sebaliknya, jika Energi Kinetik benda
berkurang, maka Energi Potensial harus bertambah dengan besar yang sama. Dengan demikian, jumlah total EP + EK (= Energi Mekanik) bernilai tetap alias kekal bin konstan Ini adalah Hukum Kekekalan Energi Mekanik untuk gaya-gaya konservatif.
Apabila hanya gaya-gaya konservatif yang bekerja, maka jumlah total Energi Mekanik pada sebuah sistem tidak berkurang atau bertambah. Energi Mekanik bernilai tetap atau kekal.
Sunday, May 12, 2013
Lubang Hitam
ABAD ke-20 menyaksikan banyak sekali penemuan baru tentang peristiwa
alam di ruang angkasa. Salah satunya, yang belum lama ditemukan, adalah Black Hole [Lubang
Hitam]. Ini terbentuk ketika sebuah bintang yang telah menghabiskan
seluruh bahan bakarnya ambruk hancur ke dalam dirinya sendiri, dan
akhirnya berubah menjadi sebuah lubang hitam dengan kerapatan tak hingga
dan volume nol serta medan magnet yang amat kuat. Kita tidak mampu
melihat lubang hitam dengan teropong terkuat sekalipun, sebab tarikan
gravitasi lubang hitam tersebut sedemikian kuatnya sehingga cahaya tidak
mampu melepaskan diri darinya. Namun, bintang yang runtuh seperti itu
dapat diketahui dari dampak yang ditimbulkannya di wilayah
sekelilingnya. Di surat Al Waaqi’ah, Allah mengarahkan perhatian pada
masalah ini sebagaimana berikut, dengan bersumpah atas letak
bintang-bintang: “Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya
bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau
kamu mengetahui.” (QS. Al Waaqi’ah, 56: 75-76)
Istilah “lubang hitam” pertama kali digunakan tahun 1969 oleh fisikawan Amerika John Wheeler. Awalnya, kita beranggapan bahwa kita dapat melihat semua bintang. Akan tetapi, belakangan diketahui bahwa ada bintang-bintang di ruang angkasa yang cahayanya tidak dapat kita lihat. Sebab, cahaya bintang-bintang yang runtuh ini lenyap. Cahaya tidak dapat meloloskan diri dari sebuah lubang hitam disebabkan lubang ini merupakan massa berkerapatan tinggi di dalam sebuah ruang yang kecil. Gravitasi raksasanya bahkan mampu menangkap partikel-partikel tercepat, seperti foton [partikel cahaya]. Misalnya, tahap akhir dari sebuah bintang biasa, yang berukuran tiga kali massa Matahari, berakhir setelah nyala apinya padam dan mengalami keruntuhannya sebagai sebuah lubang hitam bergaris tengah hanya 20 kilometer (12,5 mil)! Lubang hitam berwarna “hitam”, yang berarti tertutup dari pengamatan langsung. Namun demikian, keberadaan lubang hitam ini diketahui secara tidak langsung, melalui daya hisap raksasa gaya gravitasinya terhadap benda-benda langit lainnya. Selain gambaran tentang Hari Perhitungan, ayat di bawah ini mungkin juga merujuk pada penemuan ilmiah tentang lubang hitam ini:
“Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan.” (QS. Al Mursalaat, 77: 8)
Selain itu, bintang-bintang bermassa besar juga menyebabkan terbentuknya lekukan-lekukan yang dapat ditemukan di ruang angkasa. Namun, lubang hitam tidak hanya menimbulkan lekukan-lekukan di ruang angkasa tapi juga membuat lubang di dalamnya. Itulah mengapa bintang-bintang runtuh ini dikenal sebagai lubang hitam. Kenyataan ini mungkin dipaparkan di dalam ayat tentang bintang-bintang, dan ini adalah satu bahasan penting lain yang menunjukkan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah:
“Demi langit dan Ath Thaariq, tahukah kamu apakah Ath Thaariq? (yaitu) bintang yang cahayanya menembus.” (QS. At Thaariq, 86: 1-3)
PULSAR: BINTANG BERDENYUT
“Demi langit dan Ath Thaariq, tahukah kamu apakah Ath Thaariq? (yaitu) bintang yang cahayanya menembus.” (QS. At Thaariq, 86: 1-3)
Kata ‘Thaariq‘ nama surat ke-86, berasal dari akar kata ‘tharq‘ yang makna dasarnya adalah memukul dengan cukup keras untuk menimbulkan suara, atau menumbuk. Dengan mempertimbangkan arti yang mungkin dari kata tersebut, yakni ‘berdenyut/berdetak’, ‘memukul keras’ perhatian kita mungkin diarahkan oleh ayat ini pada sebuah kenyataan ilmiah penting. Sebelum menelaah keterangan ini, marilah kita lihat kata-kata selainnya yang digunakan dalam ayat ini untuk menggambarkan bintang-bintang ini. Istilah ‘ath-thaariqi’ dalam ayat di atas berarti sebuah bintang yang menembus malam, yang menembus kegelapan, yang muncul di malam hari, yang menembus dan bergerak, yang berdenyut/berdetak, yang menumbuk, atau bintang terang. Selain itu, kata ‘wa‘ mengarahkan perhatian pada benda-benda yang digunakan sebagai sumpah – yakni, langit dan Ath Thaariq.
Melalui penelitian oleh Jocelyn Bell Burnell, di Universitas Cambridge pada tahun 1967, sinyal radio yang terpancar secara teratur ditemukan. Namun, hingga saat itu belumlah diketahui bahwa terdapat benda langit yang berkemungkinan menjadi sumber getaran atau denyut/detak teratur yang agak mirip pada jantung. Akan tetapi, pada tahun 1967, para pakar astronomi menyatakan bahwa, ketika materi menjadi semakin rapat di bagian inti karena perputarannya mengelilingi sumbunya sendiri, medan magnet bintang tersebut juga menjadi semakin kuat, sehingga memunculkan sebuah medan magnet pada kutub-kutubnya sebesar 1 triliun kali lebih kuat daripada yang dimiliki Bumi. Mereka lalu paham bahwa sebuah benda yang berputar sedemikian cepat dan dengan medan magnet yang sedemikian kuat memancarkan berkas-berkas sinar yang terdiri dari gelombang-gelombang radio yang sangat kuat berbentuk kerucut di setiap putarannya. Tak lama kemudian, diketahui juga bahwa sumber sinyal-sinyal ini adalah perputaran cepat dari bintang-bintang neutron. Bintang-bintang neutron yang baru ditemukan ini dikenal sebagai ‘pulsar’. Bintang-bintang ini, yang berubah menjadi pulsar melalui ledakan supernova, tergolong yang memiliki massa terbesar, dan termasuk benda-benda yang paling terang dan yang bergerak paling cepat di ruang angkasa. Sejumlah pulsar berputar 600 kali per detik.
Kata ‘pulsar’ berasal dari kata kerja to pulse . Menurut kamus American Heritage Dictionary, kata tersebut berarti bergetar, berdenyut. Kamus Encarta Dictionary mengartikannya sebagai berdenyut dengan irama teratur, bergerak atau berdebar dengan irama teratur yang kuat. Lagi menurut Encarta Dictionary, kata ‘pulsate’, yang berasal dari akar yang sama, berarti mengembang dan menyusut dengan denyut teratur yang kuat.
Menyusul penemuan itu, diketahui kemudian bahwa peristiwa alam yang digambarkan dalam Al Qur’an sebagai ‘thaariq‘ yang berdenyut, memiliki kemiripan yang sangat dengan bintang-bintang neutron yang dikenal sebagai pulsar.
Bintang-bintang neutron terbentuk ketika inti dari bintang-bintang maharaksasa runtuh. Materi yang sangat termampatkan dan sangat padat itu, dalam bentuk bulatan yang berputar sangat cepat, menangkap dan memampatkan hampir seluruh bobot bintang dan medan magnetnya. Medan magnet amat kuat yang ditimbulkan oleh bintang-bintang neutron yang berputar sangat cepat ini telah dibuktikan sebagai penyebab terpancarnya gelombang-gelombang radio sangat kuat yang teramati di Bumi.
Di ayat ke-3 surat Ath Thaariq istilah ‘an najmu ats tsaaqibu‘ yang berarti yang menembus, yang bergerak, atau yang membuat lubang, mengisyaratkan bahwa Thaariq adalah sebuah bintang terang yang membuat lubang di kegelapan dan bergerak. Makna istilah ‘adraaka‘ dalam ungkapan “Tahukah kamu
apakah Ath Thaariq itu?” merujuk pada pemahaman. Pulsar, yang terbentuk melalui pemampatan bintang yang besarnya beberapa kali ukuran Matahari, termasuk benda-benda langit yang sulit untuk dipahami. Pertanyaan pada ayat tersebut menegaskan betapa sulit memahami bintang berdenyut ini. (Wallaahu a’lam)
Sebagaimana telah dibahas, bintang-bintang yang dijelaskan sebagai Thaariq dalam Al Qur’an memiliki kemiripan dekat dengan pulsar yang dipaparkan di abad ke-20, dan mungkin mengungkapkan kepada kita tentang satu lagi keajaiban ilmiah Al Qur’an.
BINTANG SIRIUS (SYI’RA)
Ketika pengertian-pengertian tertentu yang disebutkan dalam Al Qur’an dikaji berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah abad ke-21, kita akan mendapati diri kita tercerahkan dengan lebih banyak keajaiban Al Qur’an. Salah satunya adalah bintang Sirius (Syi’ra), yang disebut dalam surat An Najm ayat ke-49: “… dan bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi’ra” (QS. An Najm, 53: 49)
Kenyataan bahwa kata Arab ‘syi’raa‘ yang merupakan padan kata bintang Sirius, muncul hanya di Surat An Najm (yang hanya berarti ‘bintang’) ayat ke-49 secara khusus sangatlah menarik. Sebab, dengan mempertimbangkan ketidakteraturan dalam pergerakan bintang Sirius, yakni bintang paling terang di langit malam hari, sebagai titik awal, para ilmuwan menemukan bahwa ini adalah sebuah bintang ganda. Sirius sesungguhnya adalah sepasang dua bintang, yang dikenal sebagai Sirius A dan Sirius B. Yang lebih besar adalah Sirius A, yang juga lebih dekat ke Bumi dan bintang paling terang yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Tapi Sirus B tidak dapat dilihat tanpa teropong.
Bintang ganda Sirius beredar dengan lintasan berbentuk bulat telur mengelilingi satu sama lain. Masa edar Sirius A dan B mengelilingi titik pusat gravitasi mereka yang sama adalah 49,9 tahun. Angka ilmiah ini kini diterima secara bulat oleh jurusan astronomi di universitas Harvard, Ottawa dan Leicester. Keterangan ini dilaporkan dalam berbagai sumber sebagai berikut:
Sirius, bintang yang paling terang, sebenarnya adalah bintang kembar… Peredarannya berlangsung selama 49,9 tahun.
Sebagaimana diketahui, bintang Sirius-A dan Sirius-B beredar mengelilingi satu sama lain melintasi sebuah busur ganda setiap 49,9 tahun.
Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah garis edar ganda berbentuk busur dari dua bintang tersebut yang mengitari satu sama lain.
Namun, kenyataan ilmiah ini, yang ketelitiannya hanya dapat diketahui di akhir abad ke-20, secara menakjubkan telah diisyaratkan dalam Al Qur’an 1.400 tahun lalu. Ketika ayat ke-49 dan ke-9 dari surat An Najm dibaca secara bersama, keajaiban ini menjadi nyata: “Dan bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi’ra” (QS. An Najm, 53: 49). “Maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi)”. (QS. An Najm, 53: 9).
Penjelasan dalam Surat An Najm ayat ke-9 tersebut mungkin pula menggambarkan bagaimana kedua bintang ini saling mendekat dalam peredaran mereka. (Wallaahu a’lam). Fakta ilmiah ini, yang tak seorang pun dapat memahami di masa pewahyuan Al Qur’an, sekali lagi membuktikan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah Yang Mahakuasa.
Istilah “lubang hitam” pertama kali digunakan tahun 1969 oleh fisikawan Amerika John Wheeler. Awalnya, kita beranggapan bahwa kita dapat melihat semua bintang. Akan tetapi, belakangan diketahui bahwa ada bintang-bintang di ruang angkasa yang cahayanya tidak dapat kita lihat. Sebab, cahaya bintang-bintang yang runtuh ini lenyap. Cahaya tidak dapat meloloskan diri dari sebuah lubang hitam disebabkan lubang ini merupakan massa berkerapatan tinggi di dalam sebuah ruang yang kecil. Gravitasi raksasanya bahkan mampu menangkap partikel-partikel tercepat, seperti foton [partikel cahaya]. Misalnya, tahap akhir dari sebuah bintang biasa, yang berukuran tiga kali massa Matahari, berakhir setelah nyala apinya padam dan mengalami keruntuhannya sebagai sebuah lubang hitam bergaris tengah hanya 20 kilometer (12,5 mil)! Lubang hitam berwarna “hitam”, yang berarti tertutup dari pengamatan langsung. Namun demikian, keberadaan lubang hitam ini diketahui secara tidak langsung, melalui daya hisap raksasa gaya gravitasinya terhadap benda-benda langit lainnya. Selain gambaran tentang Hari Perhitungan, ayat di bawah ini mungkin juga merujuk pada penemuan ilmiah tentang lubang hitam ini:
“Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan.” (QS. Al Mursalaat, 77: 8)
Selain itu, bintang-bintang bermassa besar juga menyebabkan terbentuknya lekukan-lekukan yang dapat ditemukan di ruang angkasa. Namun, lubang hitam tidak hanya menimbulkan lekukan-lekukan di ruang angkasa tapi juga membuat lubang di dalamnya. Itulah mengapa bintang-bintang runtuh ini dikenal sebagai lubang hitam. Kenyataan ini mungkin dipaparkan di dalam ayat tentang bintang-bintang, dan ini adalah satu bahasan penting lain yang menunjukkan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah:
“Demi langit dan Ath Thaariq, tahukah kamu apakah Ath Thaariq? (yaitu) bintang yang cahayanya menembus.” (QS. At Thaariq, 86: 1-3)
PULSAR: BINTANG BERDENYUT
“Demi langit dan Ath Thaariq, tahukah kamu apakah Ath Thaariq? (yaitu) bintang yang cahayanya menembus.” (QS. At Thaariq, 86: 1-3)
Kata ‘Thaariq‘ nama surat ke-86, berasal dari akar kata ‘tharq‘ yang makna dasarnya adalah memukul dengan cukup keras untuk menimbulkan suara, atau menumbuk. Dengan mempertimbangkan arti yang mungkin dari kata tersebut, yakni ‘berdenyut/berdetak’, ‘memukul keras’ perhatian kita mungkin diarahkan oleh ayat ini pada sebuah kenyataan ilmiah penting. Sebelum menelaah keterangan ini, marilah kita lihat kata-kata selainnya yang digunakan dalam ayat ini untuk menggambarkan bintang-bintang ini. Istilah ‘ath-thaariqi’ dalam ayat di atas berarti sebuah bintang yang menembus malam, yang menembus kegelapan, yang muncul di malam hari, yang menembus dan bergerak, yang berdenyut/berdetak, yang menumbuk, atau bintang terang. Selain itu, kata ‘wa‘ mengarahkan perhatian pada benda-benda yang digunakan sebagai sumpah – yakni, langit dan Ath Thaariq.
Melalui penelitian oleh Jocelyn Bell Burnell, di Universitas Cambridge pada tahun 1967, sinyal radio yang terpancar secara teratur ditemukan. Namun, hingga saat itu belumlah diketahui bahwa terdapat benda langit yang berkemungkinan menjadi sumber getaran atau denyut/detak teratur yang agak mirip pada jantung. Akan tetapi, pada tahun 1967, para pakar astronomi menyatakan bahwa, ketika materi menjadi semakin rapat di bagian inti karena perputarannya mengelilingi sumbunya sendiri, medan magnet bintang tersebut juga menjadi semakin kuat, sehingga memunculkan sebuah medan magnet pada kutub-kutubnya sebesar 1 triliun kali lebih kuat daripada yang dimiliki Bumi. Mereka lalu paham bahwa sebuah benda yang berputar sedemikian cepat dan dengan medan magnet yang sedemikian kuat memancarkan berkas-berkas sinar yang terdiri dari gelombang-gelombang radio yang sangat kuat berbentuk kerucut di setiap putarannya. Tak lama kemudian, diketahui juga bahwa sumber sinyal-sinyal ini adalah perputaran cepat dari bintang-bintang neutron. Bintang-bintang neutron yang baru ditemukan ini dikenal sebagai ‘pulsar’. Bintang-bintang ini, yang berubah menjadi pulsar melalui ledakan supernova, tergolong yang memiliki massa terbesar, dan termasuk benda-benda yang paling terang dan yang bergerak paling cepat di ruang angkasa. Sejumlah pulsar berputar 600 kali per detik.
Kata ‘pulsar’ berasal dari kata kerja to pulse . Menurut kamus American Heritage Dictionary, kata tersebut berarti bergetar, berdenyut. Kamus Encarta Dictionary mengartikannya sebagai berdenyut dengan irama teratur, bergerak atau berdebar dengan irama teratur yang kuat. Lagi menurut Encarta Dictionary, kata ‘pulsate’, yang berasal dari akar yang sama, berarti mengembang dan menyusut dengan denyut teratur yang kuat.
Menyusul penemuan itu, diketahui kemudian bahwa peristiwa alam yang digambarkan dalam Al Qur’an sebagai ‘thaariq‘ yang berdenyut, memiliki kemiripan yang sangat dengan bintang-bintang neutron yang dikenal sebagai pulsar.
Bintang-bintang neutron terbentuk ketika inti dari bintang-bintang maharaksasa runtuh. Materi yang sangat termampatkan dan sangat padat itu, dalam bentuk bulatan yang berputar sangat cepat, menangkap dan memampatkan hampir seluruh bobot bintang dan medan magnetnya. Medan magnet amat kuat yang ditimbulkan oleh bintang-bintang neutron yang berputar sangat cepat ini telah dibuktikan sebagai penyebab terpancarnya gelombang-gelombang radio sangat kuat yang teramati di Bumi.
Di ayat ke-3 surat Ath Thaariq istilah ‘an najmu ats tsaaqibu‘ yang berarti yang menembus, yang bergerak, atau yang membuat lubang, mengisyaratkan bahwa Thaariq adalah sebuah bintang terang yang membuat lubang di kegelapan dan bergerak. Makna istilah ‘adraaka‘ dalam ungkapan “Tahukah kamu
apakah Ath Thaariq itu?” merujuk pada pemahaman. Pulsar, yang terbentuk melalui pemampatan bintang yang besarnya beberapa kali ukuran Matahari, termasuk benda-benda langit yang sulit untuk dipahami. Pertanyaan pada ayat tersebut menegaskan betapa sulit memahami bintang berdenyut ini. (Wallaahu a’lam)
Sebagaimana telah dibahas, bintang-bintang yang dijelaskan sebagai Thaariq dalam Al Qur’an memiliki kemiripan dekat dengan pulsar yang dipaparkan di abad ke-20, dan mungkin mengungkapkan kepada kita tentang satu lagi keajaiban ilmiah Al Qur’an.
BINTANG SIRIUS (SYI’RA)
Ketika pengertian-pengertian tertentu yang disebutkan dalam Al Qur’an dikaji berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah abad ke-21, kita akan mendapati diri kita tercerahkan dengan lebih banyak keajaiban Al Qur’an. Salah satunya adalah bintang Sirius (Syi’ra), yang disebut dalam surat An Najm ayat ke-49: “… dan bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi’ra” (QS. An Najm, 53: 49)
Kenyataan bahwa kata Arab ‘syi’raa‘ yang merupakan padan kata bintang Sirius, muncul hanya di Surat An Najm (yang hanya berarti ‘bintang’) ayat ke-49 secara khusus sangatlah menarik. Sebab, dengan mempertimbangkan ketidakteraturan dalam pergerakan bintang Sirius, yakni bintang paling terang di langit malam hari, sebagai titik awal, para ilmuwan menemukan bahwa ini adalah sebuah bintang ganda. Sirius sesungguhnya adalah sepasang dua bintang, yang dikenal sebagai Sirius A dan Sirius B. Yang lebih besar adalah Sirius A, yang juga lebih dekat ke Bumi dan bintang paling terang yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Tapi Sirus B tidak dapat dilihat tanpa teropong.
Bintang ganda Sirius beredar dengan lintasan berbentuk bulat telur mengelilingi satu sama lain. Masa edar Sirius A dan B mengelilingi titik pusat gravitasi mereka yang sama adalah 49,9 tahun. Angka ilmiah ini kini diterima secara bulat oleh jurusan astronomi di universitas Harvard, Ottawa dan Leicester. Keterangan ini dilaporkan dalam berbagai sumber sebagai berikut:
Sirius, bintang yang paling terang, sebenarnya adalah bintang kembar… Peredarannya berlangsung selama 49,9 tahun.
Sebagaimana diketahui, bintang Sirius-A dan Sirius-B beredar mengelilingi satu sama lain melintasi sebuah busur ganda setiap 49,9 tahun.
Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah garis edar ganda berbentuk busur dari dua bintang tersebut yang mengitari satu sama lain.
Namun, kenyataan ilmiah ini, yang ketelitiannya hanya dapat diketahui di akhir abad ke-20, secara menakjubkan telah diisyaratkan dalam Al Qur’an 1.400 tahun lalu. Ketika ayat ke-49 dan ke-9 dari surat An Najm dibaca secara bersama, keajaiban ini menjadi nyata: “Dan bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi’ra” (QS. An Najm, 53: 49). “Maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi)”. (QS. An Najm, 53: 9).
Penjelasan dalam Surat An Najm ayat ke-9 tersebut mungkin pula menggambarkan bagaimana kedua bintang ini saling mendekat dalam peredaran mereka. (Wallaahu a’lam). Fakta ilmiah ini, yang tak seorang pun dapat memahami di masa pewahyuan Al Qur’an, sekali lagi membuktikan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah Yang Mahakuasa.
Pembentukan Hujan Pun Sudah Ada Dalam Al-Qur’an
Mungkin sebagian orang hujan itu pembawa bencana, padahal hujan
meruapakan salah satu hal yang penting buwat kelanjutan kehidupan
makhluk termasuk manusia di muka bumi ini.
Tentang hujan ini nggak begitu aja turun dari langit, melainkan ada prosesnya. Kalian mungkin tau tentang proses pembentukan hujan ini dari buku-buku IPA waktu SD, tapi tahukah kalian ternyata proses pembentukan ujan ternyata tercantum dalam Al-Qur’an plus mengenai informasi penting tentang hujan, kadar dan pengaruh-pengaruhnya.
Dalam surat Az-Zukhruf ayat 11, hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam ‘ukuran tertentu’. “Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. Az-Zukhruf : 11)
‘Kadar’ yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi dalam sebuah siklus seimbang menurut ‘ukuran’ tertentu. Jadi jangan sampai beranggapan kalo hujan itu menambah jumlah air yang ada di bumi.
Pengukuran lain yang berkaitan dengan hujan adalah mengenai kecepatan turunya hujan. Ketinggian minimum awan adalah sekitar 12.000 meter. Ketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558km/jam. Tentunya, objek apapun yang jatuh dengan kecepatan tersebut akan mengakibatkan kerusakan. Dan kalo hujan turun dengan cara demikian, maka seluruh lahan tanaman akan hancur, pemukiman, perumahan, kendaraan akan mengalami kerusakan, dan orang-orang pun nggak bisa pergi keluar tanpa mengenakan alat perlindungan ekstra. Terlebih lagi, perhitungan ini dibuat untuk ketinggian 12.000 meter, faktanya terdapat awan yang memiliki ketinggian hanya sekitar 10.000 meter. Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini tentu saja akan jatuh pada kecepatan yang mampu merusak apa saja.
Namun tidak demikian terjadinya, dari ketinggian berapapun hujan itu turun, kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah. Hal ini disebabkan karena bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa. Keistimewaan bentuk tetesan hujan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer dan mempertahankan kelajuan tetesan-tetesan hujan ketika mencapai ‘batas’ kecepatan tertentu. (Saat ini, parasut dirancang dengan menggunakan teknik ini).
Nggak hanya sebatas itu saja ‘pengukuran’ tentang hujan. Contoh lain misalnya, pada lapisan atmosferis tempat terjadinya hujan, temperatur bisa saja turun hingga 400 derajat Celcius di bawah nol. Meskipun demikian, tetesan-tetesan hujan nggak berubah menjadi partikel es. (Hal ini tentunya merupakan ancaman mematikan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.) Alasan nggak membekunya tetesan-tetesan hujan tersebut adalah karena air yang terkandung dalam atmosfer merupakan air murni. Sebagaimana kita ketahui, bahwa air murni hampir nggak membeku pada temperatur yang sangat rendah sekalipun.
Adapun proses bagaimana hujan terbentuk, asalanya tetap menjadi misteri bagi manusia dalam kurun waktu yang lama. Hanya setelah ditemukannya radar cuaca, barulah dapat dipahami tahapan-tahapan pembentukan hujan. Pembentukan hujan terjadi dalam tiga tahap. Pertama, ‘bahan mentah’ hujan naik ke udara. Kemudian terkumpul menjadi awan. Akhirnya, tetesan-tetesan hujan pun muncul.
Tahapan-tahapan ini secara terperinci telah tertulis dalam Al-Qur’an berabad-abad tahun lalu sebelum informasi mengenai pembentukan hujan disampaikan : “Allah, dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal: lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambanya yang di kehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum : 48)
Sekarang, mari kita lihat pada tiga tahapan yang disebutkan dalam Al-Qur’an:
Tahap Pertama : “ Allah, dialah yang mengirimkan angin…..”
Gelembung-gelembung udara yang tidak terhitung jumlahnya dibentuk oleh buih-buih di lautan yang secara terus-menerus pecah dan mengakibatkan partikel-partikel air tersembur ke udara menuju ke langit. Partikel-partikel ini (yang kaya akan garam) kemudian terbawa angin dan bergeser ke atas menuju atmosfer. Partikel-partikel ini (disebut aerosol) membentuk awan dengan mengumpulkan uap air (yang naik dari lautan sebagai tetesan-tetesan oleh sebuah proses yang dikenal dengan ‘JebakanAir’) di sekelilingnya.
Tahap Kedua : “…..lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadi bergumpal-gumpal…..”
Awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekitar kristal-kristal garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena tetesan-tetesan air di sini sangat kecil (dengan diameter antara 0,01-0,02 mm), awan mengapung di udara dan menyebar di angkasa. Sehingga langit tertutup oleh awan.
Tahap Ketiga : “….lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun.”
Partikel-partikel air yang mengelilingi kristal-kristal garam dan partikel-partikel debu mengental dan membentuk tetesan-tetesan hujan. Sehingga, tetesan-tetesan tersebut, yang menjadi lebih berat dari udara, meninggalkan awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.
Setiap tahap dalam pembentukan hujan disampaikan dalam Al-Qur’an. Terlebih lagi, tahapan-tahapan tersebut dijelaskan dalam runtutan yang benar. Seperti halnya fenomena alam lain di dunia, lagi-lagi Al-Qur’an lah yang memberikan informasi yang paling tepat tentang fenomena ini, selain itu, Al-Qur’an telah memberitahukan fakta-fakta ini kepada manusia berabad-abad sebelum sains sanggup mengungkapnya. Masihkah mau mengelak dari kebenaran Islam?
Tentang hujan ini nggak begitu aja turun dari langit, melainkan ada prosesnya. Kalian mungkin tau tentang proses pembentukan hujan ini dari buku-buku IPA waktu SD, tapi tahukah kalian ternyata proses pembentukan ujan ternyata tercantum dalam Al-Qur’an plus mengenai informasi penting tentang hujan, kadar dan pengaruh-pengaruhnya.
Dalam surat Az-Zukhruf ayat 11, hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam ‘ukuran tertentu’. “Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. Az-Zukhruf : 11)
‘Kadar’ yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi dalam sebuah siklus seimbang menurut ‘ukuran’ tertentu. Jadi jangan sampai beranggapan kalo hujan itu menambah jumlah air yang ada di bumi.
Pengukuran lain yang berkaitan dengan hujan adalah mengenai kecepatan turunya hujan. Ketinggian minimum awan adalah sekitar 12.000 meter. Ketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558km/jam. Tentunya, objek apapun yang jatuh dengan kecepatan tersebut akan mengakibatkan kerusakan. Dan kalo hujan turun dengan cara demikian, maka seluruh lahan tanaman akan hancur, pemukiman, perumahan, kendaraan akan mengalami kerusakan, dan orang-orang pun nggak bisa pergi keluar tanpa mengenakan alat perlindungan ekstra. Terlebih lagi, perhitungan ini dibuat untuk ketinggian 12.000 meter, faktanya terdapat awan yang memiliki ketinggian hanya sekitar 10.000 meter. Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini tentu saja akan jatuh pada kecepatan yang mampu merusak apa saja.
Namun tidak demikian terjadinya, dari ketinggian berapapun hujan itu turun, kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah. Hal ini disebabkan karena bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa. Keistimewaan bentuk tetesan hujan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer dan mempertahankan kelajuan tetesan-tetesan hujan ketika mencapai ‘batas’ kecepatan tertentu. (Saat ini, parasut dirancang dengan menggunakan teknik ini).
Nggak hanya sebatas itu saja ‘pengukuran’ tentang hujan. Contoh lain misalnya, pada lapisan atmosferis tempat terjadinya hujan, temperatur bisa saja turun hingga 400 derajat Celcius di bawah nol. Meskipun demikian, tetesan-tetesan hujan nggak berubah menjadi partikel es. (Hal ini tentunya merupakan ancaman mematikan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.) Alasan nggak membekunya tetesan-tetesan hujan tersebut adalah karena air yang terkandung dalam atmosfer merupakan air murni. Sebagaimana kita ketahui, bahwa air murni hampir nggak membeku pada temperatur yang sangat rendah sekalipun.
Adapun proses bagaimana hujan terbentuk, asalanya tetap menjadi misteri bagi manusia dalam kurun waktu yang lama. Hanya setelah ditemukannya radar cuaca, barulah dapat dipahami tahapan-tahapan pembentukan hujan. Pembentukan hujan terjadi dalam tiga tahap. Pertama, ‘bahan mentah’ hujan naik ke udara. Kemudian terkumpul menjadi awan. Akhirnya, tetesan-tetesan hujan pun muncul.
Tahapan-tahapan ini secara terperinci telah tertulis dalam Al-Qur’an berabad-abad tahun lalu sebelum informasi mengenai pembentukan hujan disampaikan : “Allah, dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal: lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambanya yang di kehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum : 48)
Sekarang, mari kita lihat pada tiga tahapan yang disebutkan dalam Al-Qur’an:
Tahap Pertama : “ Allah, dialah yang mengirimkan angin…..”
Gelembung-gelembung udara yang tidak terhitung jumlahnya dibentuk oleh buih-buih di lautan yang secara terus-menerus pecah dan mengakibatkan partikel-partikel air tersembur ke udara menuju ke langit. Partikel-partikel ini (yang kaya akan garam) kemudian terbawa angin dan bergeser ke atas menuju atmosfer. Partikel-partikel ini (disebut aerosol) membentuk awan dengan mengumpulkan uap air (yang naik dari lautan sebagai tetesan-tetesan oleh sebuah proses yang dikenal dengan ‘JebakanAir’) di sekelilingnya.
Tahap Kedua : “…..lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadi bergumpal-gumpal…..”
Awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekitar kristal-kristal garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena tetesan-tetesan air di sini sangat kecil (dengan diameter antara 0,01-0,02 mm), awan mengapung di udara dan menyebar di angkasa. Sehingga langit tertutup oleh awan.
Tahap Ketiga : “….lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun.”
Partikel-partikel air yang mengelilingi kristal-kristal garam dan partikel-partikel debu mengental dan membentuk tetesan-tetesan hujan. Sehingga, tetesan-tetesan tersebut, yang menjadi lebih berat dari udara, meninggalkan awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.
Setiap tahap dalam pembentukan hujan disampaikan dalam Al-Qur’an. Terlebih lagi, tahapan-tahapan tersebut dijelaskan dalam runtutan yang benar. Seperti halnya fenomena alam lain di dunia, lagi-lagi Al-Qur’an lah yang memberikan informasi yang paling tepat tentang fenomena ini, selain itu, Al-Qur’an telah memberitahukan fakta-fakta ini kepada manusia berabad-abad sebelum sains sanggup mengungkapnya. Masihkah mau mengelak dari kebenaran Islam?
Mengapa Awan berwarna Abu-abu Sebelum Hujan?
MESKIPUN hujan belum turun, kamu mungkin bisa menebak apakah sebentar
lagi akan hujan atau tidak. Caranya, lihatlah awan. Bila berwarna
abu-abu atau kehitaman, besar kemungkinan akan turun hujan. Semakin
pekat warna awan, hujannya bakal semakin deras. Tapi, pernahkah
Anda bertanya mengapa awan berwarna abu-abu kalau mau hujan? Bukankah
air kalau awan itu mengandung air berwarna bening? Menurut Richard
Brill, asisten profesor di Honolulu Community College, Hawaii, untuk
mengetahui jawabannya, ada beberapa hal yang perlu dipahami.
Pertama, awan mendung sebetulnya tersusun atas bintik-bintik air dan kristal es bila suhu udara cukup dingin. Karena ukurannya sangat kecil, bintik air dan partikel es ini tidak jatuh, melainkan melayang-layang di udara. Konsentrasi partikel-partikel ini padat. Selain itu tebal. Inilah yang menyebabkan awan mendung biasanya berwarna abu-abu. Lalu, apa hubungannya antara ketebalan dan warna abu-abu?
Butiran-butiran air dan kristal es di dalam awan, kata Brill, umumnya menghamburkan semua cahaya matahari yang menerpa permukaannya. Padahal, seperti kita ketahui, benda yang menghamburkan semua cahaya yang menerpanya akan ditangkap oleh mata sebagai benda berwarna putih. Hal ini berbeda dengan partikel debu yang ada di udara yang lebih banyak menghamburkan cahaya biru (sehingga langit tampak berwarna biru).
Nah, pada awan yang tipis, kebanyakan cahaya yang menerpanya akan diteruskan, sehingga dari permukaan bumi akan tampak berwarna keputihan. Namun, pada awan yang tebal atau padat, akan sedikit cahaya yang diteruskan. Semakin kental atau tebal awan tersebut, cahaya yang diteruskan semakin sedikit. Akibatnya, awan yang tebal akan gelap di permukaan dasarnya, namun masih menghamburkan semua cahaya. Kita menerimanya sebagai warna abu-abu.
Pertama, awan mendung sebetulnya tersusun atas bintik-bintik air dan kristal es bila suhu udara cukup dingin. Karena ukurannya sangat kecil, bintik air dan partikel es ini tidak jatuh, melainkan melayang-layang di udara. Konsentrasi partikel-partikel ini padat. Selain itu tebal. Inilah yang menyebabkan awan mendung biasanya berwarna abu-abu. Lalu, apa hubungannya antara ketebalan dan warna abu-abu?
Butiran-butiran air dan kristal es di dalam awan, kata Brill, umumnya menghamburkan semua cahaya matahari yang menerpa permukaannya. Padahal, seperti kita ketahui, benda yang menghamburkan semua cahaya yang menerpanya akan ditangkap oleh mata sebagai benda berwarna putih. Hal ini berbeda dengan partikel debu yang ada di udara yang lebih banyak menghamburkan cahaya biru (sehingga langit tampak berwarna biru).
Nah, pada awan yang tipis, kebanyakan cahaya yang menerpanya akan diteruskan, sehingga dari permukaan bumi akan tampak berwarna keputihan. Namun, pada awan yang tebal atau padat, akan sedikit cahaya yang diteruskan. Semakin kental atau tebal awan tersebut, cahaya yang diteruskan semakin sedikit. Akibatnya, awan yang tebal akan gelap di permukaan dasarnya, namun masih menghamburkan semua cahaya. Kita menerimanya sebagai warna abu-abu.
Hubungan Cahaya dalam Al-Qur'an dan Fisika
Kita semua pasti pernah mendengar cahaya dalam ilmu fisika, ilmu fisika tentang
cahaya itu bukan hal yang tabu untuk kita dengar dan pelajari bagi mereka yang
pernah duduk di bangku sekolah. Tapi walaupun kita tidak belajar tentang ilmu
fisika, dalam kehidupan pun kita sering mengaplikasikan fisika dalam kehidupan
sehari-hari.
Salah satu nama surat dalam al Qur’an adalah an Nuur yang berarti “cahaya”. Cahaya bukan merupakan fenomena aneh dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi yang sudah mempelajari IPA dari sejak SD, telah mengerti sifat-sifat cahaya ini. Lalu al Qur’an memuat surat “cahaya”, apa keistimewaannya?
35. Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Ternyata disebutkan bahwa cahaya berlapis-lapis/bertingkat. Dalam fisika telah dimaklumi bahwa cahaya putih dari sinar matahari jika dilwatkan pada sebuah prisma akan terurai menjadi warna-warni seperti pelangi. Warna-warni ini menunjukkan spektrum cahaya sekaligus tingkat energinya. Semakin ke arah warna merah, energinya semakin tinggi. Jika cahaya memasuki air laut, maka uraian warna tadi (pelangi) tersebut akan hilang satu persatu sesuai tingkatannya. Pada kedalaman tertentu, warna merah tidak bisa menembus lagi, sementara warna lainnya masih terus masuk ke dalam air. Begitu seterusnya sampai warna terakhir yang masuk ke kedalaman tertentu secara berurutan ke warna violet.
Salah satu nama surat dalam al Qur’an adalah an Nuur yang berarti “cahaya”. Cahaya bukan merupakan fenomena aneh dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi yang sudah mempelajari IPA dari sejak SD, telah mengerti sifat-sifat cahaya ini. Lalu al Qur’an memuat surat “cahaya”, apa keistimewaannya?
35. Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Ternyata disebutkan bahwa cahaya berlapis-lapis/bertingkat. Dalam fisika telah dimaklumi bahwa cahaya putih dari sinar matahari jika dilwatkan pada sebuah prisma akan terurai menjadi warna-warni seperti pelangi. Warna-warni ini menunjukkan spektrum cahaya sekaligus tingkat energinya. Semakin ke arah warna merah, energinya semakin tinggi. Jika cahaya memasuki air laut, maka uraian warna tadi (pelangi) tersebut akan hilang satu persatu sesuai tingkatannya. Pada kedalaman tertentu, warna merah tidak bisa menembus lagi, sementara warna lainnya masih terus masuk ke dalam air. Begitu seterusnya sampai warna terakhir yang masuk ke kedalaman tertentu secara berurutan ke warna violet.
Fenomena ini cukup jelas bagi kita bahwa cahaya memiliki tingkatan seperti
disebutkan dalam al Qur’an. Makna tersembunyi lainnya adalah bahwa pernyataan
al Qur’an (an Nuur : 40) tentang adanya lapisan di dalam lautan tidak pula
dipungkiri.
40. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.
Karakter lainnya dari cahaya adalah memiliki massa diam m0 = 0. Ini berarti bahwa cahaya tidak memiliki energi jika dalam keadaan diam. Energi cahaya dapat dinyatakan dengan perkalian frekuensinya dengan konstanta Planck (h), jadi E = hf dengan f = frekuensi cahaya. Dengan kata lain, cahaya tidak pernah diam kapanpun. Sifat cahaya ini tidak lain adalah sifat Allah Swt, yaitu Nur ‘alan Nuur.
Dalam ayat lain (ar Rahmaan: 29), Allah senantiasa dalam keadaan menciptakan, menghidupkan, mematikan, memelihara, memberi rezki dan lain lain.
29. … Setiap waktu Dia dalam kesibukan.
Allah tidak pernah tidur, Dia selalu sibuk, bergerak, berinovasi, menciptakan baik benda langit dan makhluk hidup di bumi selalu mengalami perubahan karena kehendak Allah. Sifat cahaya yang tidak pernah diam ini merupakan sifat Allah. Jika cahaya diam, berarti tidak memiliki energi, tidak memiliki kreativitas (daya cipta), tidak memiliki inovasi. Ini bertentangan dengan sifat Allah yang Maha Pencipta.
40. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.
Karakter lainnya dari cahaya adalah memiliki massa diam m0 = 0. Ini berarti bahwa cahaya tidak memiliki energi jika dalam keadaan diam. Energi cahaya dapat dinyatakan dengan perkalian frekuensinya dengan konstanta Planck (h), jadi E = hf dengan f = frekuensi cahaya. Dengan kata lain, cahaya tidak pernah diam kapanpun. Sifat cahaya ini tidak lain adalah sifat Allah Swt, yaitu Nur ‘alan Nuur.
Dalam ayat lain (ar Rahmaan: 29), Allah senantiasa dalam keadaan menciptakan, menghidupkan, mematikan, memelihara, memberi rezki dan lain lain.
29. … Setiap waktu Dia dalam kesibukan.
Allah tidak pernah tidur, Dia selalu sibuk, bergerak, berinovasi, menciptakan baik benda langit dan makhluk hidup di bumi selalu mengalami perubahan karena kehendak Allah. Sifat cahaya yang tidak pernah diam ini merupakan sifat Allah. Jika cahaya diam, berarti tidak memiliki energi, tidak memiliki kreativitas (daya cipta), tidak memiliki inovasi. Ini bertentangan dengan sifat Allah yang Maha Pencipta.
Hasil penelitian Astro-Fisika terbaru menunjukan bahwa di langit selalu
tercipta bintang-bintang baru dalam bentuk Asap, asap-asap ini membentuk
jaringan materi antar galaksi, menggumpal, membentuk bintang-bintang baru,
seterusnya sampai wujud bintang yang kita lihat setiap malam. Surat Fushshilat
: 11 menjelaskan:
Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.”
Manusia hanya bisa melihat pada frekuensi cahaya tampak, di luar rentang frekuensi ini, cahaya tidak dapat dilihat. Frekuensi diluar rentang cahaya tampak adalah sinar X, sinar gamaa, infra merah, gelombang radio, dan lainnya. Kesemuanya, termasuk cahaya merupakan gelombang elektromagnetik (GEM). Meskipun tidak terlihat, cahaya/sinar-sinar (GEM) ini semua bermanfaat bagi manusia, seperti penggunaan Rontgen dalam kedokteran, komunikasi radio dan lainnya.
Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.”
Ayat di atas menunjukkan bahwa kepatuhan langit ini
diimplementasikan dalam bentuk taat azas berupa tetapnya Hukum-Hukum Alam di
Jagad Raya ini. Sedikit saja terjadi pergeseran/melenceng dari Hukum Alam yang
ada, dapat dibayangkan benda-benda langit akan keluar dari garis edarnya.
Begitu pula, sedikit saja frekuensi cahaya tampak digeser ke arah tinggi atau
rendah, maka hal-hal yang indah dalam penglihatan kita, bisa terhapus
selamanya.
Manusia hanya bisa melihat pada frekuensi cahaya tampak, di luar rentang frekuensi ini, cahaya tidak dapat dilihat. Frekuensi diluar rentang cahaya tampak adalah sinar X, sinar gamaa, infra merah, gelombang radio, dan lainnya. Kesemuanya, termasuk cahaya merupakan gelombang elektromagnetik (GEM). Meskipun tidak terlihat, cahaya/sinar-sinar (GEM) ini semua bermanfaat bagi manusia, seperti penggunaan Rontgen dalam kedokteran, komunikasi radio dan lainnya.
Tuesday, May 7, 2013
Sunday, May 5, 2013
Fakta Fakta Ilmiah Al Quran Terbukti
Fakta Ilmiah dalam Al Quran telah terbukti kebenarannya yang banyak ditemukan oleh para ilmuwan. Berikut beberapa fakta ilmiah Alquran yang dihimpun dari berbagai
sumber, di mana berbagai penemuan ilmiah saat ini ternyata sesuai dengan
ayat-ayatnya
http://www.eramuslim.com/peradaban/quran-sunnah/fakta-fakta-ilmiah-al-quran-terbukti.htm#.UYckJEpSIlQ
http://www.eramuslim.com/peradaban/quran-sunnah/fakta-fakta-ilmiah-al-quran-terbukti.htm#.UYckJEpSIlQ
Tuesday, April 30, 2013
Monday, April 29, 2013
Pedoman BPP-DN
bagi yang ingin melanjutkan S2, ini ada info tentang beasiswa pascasarjana atau yg lebih dikenal dg BPP-DN. Semoga bermanfaat
DOWNLOAD
DOWNLOAD
Tuesday, April 23, 2013
Pusaran Energi Ka'bah dan Rahasia Multazam
Ketika seseorang menunaikan ibadah haji, hampir dipastikan setiap orang
yang berthawaf akan menyempatkan diri untuk berdo’a di Multazam.
Multazam adalah suatu tempat di dekat Ka’bah antara Hajar Aswad dan
pintu Ka’bah. Konon, berdoa disini cepat dikabulkan Allah. Lalu, rahasia
apakah yang menyebabkan berdo’a di tempat ini menjadi demikian
mustajab ?
Hal ini akan dicoba ditelaah secara ilmiah, walaupun ada keterbatasan ilmu dan nalar.
Faktor-faktor penyebab Multazam menjadi tempat yang mustajab :
1. Faktor Nabi Ibrahim
2. Faktor Hajar Aswad
3. Faktor jutaan manusia yang berthawaf mengitari Ka’bah
1. Faktor Nabi Ibrahim
· Nabi Ibrahim adalah orang yang membangun Ka’bah bersama Nabi Ismail.
· Nabi Ibrahim adalah hamba yang berhati lembut. Dalam bahasa lain dikatakan bahwa hati yang lembut akan memancarkan cahaya dan aura yang positif. Semakin lembut dan iklas seseorang, maka pancaran auranya akan semakin kuat dan bisa meresonansi (baca : mempengaruhi) lingkungan sekitarnya. Bila kita dekat dengan orang yang saleh, maka hidup dan hati kita akan tenteram.
· Nabi Ibrahim adalah Rasul dengan kualitas kepasrahan dan keikhlasan yang sangat tinggi, sehingga oleh Allah beliau dijadikan teladan untuk umat manusia. Hal ini dibuktikan ketika beliau diperintahkan Nya untuk mengorbankan anaknya. Semua itu dijalani dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan.
QS. Shaad (38) : 45
Dan ingatlah hamba-hamba Kami : Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang Tinggi.
· Dengan tingkat kepasrahan dan keikhlasan seperti ini, Nabi Ibrahim mempunyai pancaran energi yang luar biasa besarnya. Manusia dan lingkungan yang pernah menjadi lokasi aktifitas beliau akan teresonansi oleh energi beliau. Apalagi karya-karya yang lahir langsung dari tangan beliau – dengan bantuan Allah tentu saja
· Ka’bah adalah karya Nabi Ibrahim. Maka, di dalam Ka’bah ini – dengan izin Allah- tersimpan energi Nabi Ibrahim yang sangat besar. Apalagi Ka’bah menjadi tempat aktifitas beribadah selama bertahun-tahun, maka Ka’bah menyimpan energi yang positif. Dekat dengan Kab’ah serasa dekat dengan Nabi Ibrahim. Kita merasakan ketenangan, kedamaian dan kelembutan, persis seperti sifat Nabi Ibrahim. Maka berdo’a di dekat Ka’bah akan membantu kita untuk khusyuk dan hati menjadi tenang dan fokus pada saat berdo’a. Hilang semua kesombongan dan keangkuhan, sehingga do’a kita menjadi didengar oleh Allah.
QS. Al A’raaf (7) : 55
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas
2. Faktor Hajar Aswad (Batu Hitam)
· Hajar Aswad adalah Batu Hitam yang –konon- jatuh dari langit (kemungkinan besar meteor) yang memiliki kadar logam yang sangat tinggi.
· Hajar Aswad dijadikan sebagai salah satu bagian dari batu fondasi Ka’bah oleh Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail mendapat perintah dari Allah untuk meninggikan fondasi Ka’bah yang sampai kini menjadi pusat peribadatan umat Islam.
Qs. Al Baqarah (2) : 127
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".
Energi yang dipancarkan oleh Nabi Ibrahim sepanjang interaksinya pada waktu itu tersimpan dalam sistem bangunan Ka’bah. Apalagi seusai membangun Ka’bah itu beliau berdua (Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail) berdo’a memohon agar ibadah dan do’a mereka diterima seperti ayat di atas. Hajar Aswad berfungsi sebagai semacam pintu masuk dan keluarnya energi Ka’bah karena memiliki daya hantaran elektromagnetik yang sangat tinggi. Energi Ka’bah mengalir deras di bagian ini meliputi orang disekitarnya. Karena itu orang yang berada paling dekat dengan Hajar Aswad (disitulah letaknya Multazam) itulah yang mengalami pengaruh paling besar karena getaran gelombang doanya berinteraksi dengan sistem energi Ka’bah.
· Hajar Aswad kemungkinan besar memiliki konduktivitas yang luar biasa.
Hal ini dibuktikan saat ada petir yang secara tiba-tiba menyambar Ka’bah pada tahun 1995. Anehnya, petir itu tidak menyambar pengkal petir di gedung-gedung tinggi di sekitar Masjidil Haram, melainkan menyambar Ka’bah. Secara ilmu fisika hal ini menunjukkan betapa dahsyatnya konduktivitas Hajar Aswad dibandingkan dengan Platina yang berada di ujung penangkal petir di gedung-gedung tinggi tersebut. Dalam keadaan biasa, petir seharusnya menyambar benda tertinggi dari permukaan tanah
3. Faktor Orang Berthawaf
· Sesungguhnya setiap perbuatan manusia menghasilkan gelombang eleltromagnetik. Gelombang ini memancar ketika kita sedang berpikir maupun sedang melakukan aktifitas fisik.
· Hal ini terjadi karena tubuh manusia merupakan kumpulan bio elektron yang berputar-putar di setiap atom penyusun tubuh kita. Ketika sedang berbicara, sebenarnya kita sedang memancarkan gelombang suara yang berasal dari getaran pita suara kita. Begitu pula, saat kita melakukan sesuatu, artinya kita sedang memantulkan gelombang cahaya ke berbagai penjuru. Jika tertangkap mata seseorang, gerakan atau perbuatan kita bisa dilihat olehnya.
· Bila kita sedang berpikir maka otak kita juga memancarkan gelombang-gelombang yang bisa dideteksi dengan menggunakan alat perekam otak yang disebut EEG (Electric Encephalo Graph). Jadi, setiap aktifitas kita selalu memancarkan energi.
· Dalam Ilmu Fisika, kita mengenal Kaidah Tangan Kanan, yang berbunyi : Jika ada sebatang konduktor (logam) dikelilingi oleh listrik yang bergerak berlawanan dengan jarum jam, maka pada konduktor itu akan muncul medan gelombang elekromagnetik yang mengarah ke atas.
· Ketika jutaan orang berthawaf mengelilingi Ka’bah, hal ini akan seperti ada arus listrik yang sangat besar berputar-putar berlawanan dengan arah jarum jam mengitari Ka’bah. Kenapa hal ini terjadi ? Hal ini disebabkan tubuh manusia mengandung bio elektron. Ini disebabkan karena Ka’bah, khususnya Hajar Aswad telah berfungsi sebagai konduktor seperti dalam teori Kaidah Tangan Kanan. Bukan konduktor, tapi super konduktor !!
· Gelombang tersebut akan membantu kekuatan do’a orang-orang yang bermunajat di sekitar Ka’bah, khususnya yang berada di dekat Hajar Aswad.
Analogi dengan penyiar radio
· Pada saat seorang penyiar berbicara di depan mikropon, sebenarnya dia sedang menumpangkan suaranya pada gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh peralatan pemancarnya
· Suara dia bisa terdengar (dengan peralatan penerima) dari jarak yang sangat jauh. Hal ini terjadi karena energi suaranya “diangkut” oleh gelombang elektromagnetik dan dipancarkan oleh pemancar dengan power yang besar. Semakin besar powernya, akan semakin besar pula jarak tempuhnya, bisa menjangkau berkilo-kilo meter dari sumber suara.
· Orang yang berdo’a di dekat Multazam adalah laksana seorang penyiar radio yang sedang bertugas. Dia berada di depan “mirofon” Hajar Aswad. Ketika dia berdo’a, maka pancaran energi do’anya itu akan ditangkap oleh super konduktor Hajar Aswad untuk kemudian dipancarkan bersama-sama gelombang elektromagnetik yang mengarah ke atas akibat orang yang berthawaf.
· Dengan demikian energi do’a kita akan “menumpang” gelombang elektromagnetik yang keluar dari Ka’bah itu, mirip dengan yang terjadi pada radio. Kekuatan do’a kita menjadi berlipat kali besarnya dari semula karena dibantu oleh power yang demikian besar dari Ka’bah menuju Arasy Allah.
· Karena power yang demikian besar itulah maka berdo’a di Multazam menjadi demikian mustajab. Energi itu jauh lebih cepat sampai kepada Allah dan cepat pula mendapat balasannya.
(Source : www.hikmahfm.com, ringkasan dari buku "Pusaran Energi Ka'bah" karya Agus Mustofa)
Hal ini akan dicoba ditelaah secara ilmiah, walaupun ada keterbatasan ilmu dan nalar.
Faktor-faktor penyebab Multazam menjadi tempat yang mustajab :
1. Faktor Nabi Ibrahim
2. Faktor Hajar Aswad
3. Faktor jutaan manusia yang berthawaf mengitari Ka’bah
1. Faktor Nabi Ibrahim
· Nabi Ibrahim adalah orang yang membangun Ka’bah bersama Nabi Ismail.
· Nabi Ibrahim adalah hamba yang berhati lembut. Dalam bahasa lain dikatakan bahwa hati yang lembut akan memancarkan cahaya dan aura yang positif. Semakin lembut dan iklas seseorang, maka pancaran auranya akan semakin kuat dan bisa meresonansi (baca : mempengaruhi) lingkungan sekitarnya. Bila kita dekat dengan orang yang saleh, maka hidup dan hati kita akan tenteram.
· Nabi Ibrahim adalah Rasul dengan kualitas kepasrahan dan keikhlasan yang sangat tinggi, sehingga oleh Allah beliau dijadikan teladan untuk umat manusia. Hal ini dibuktikan ketika beliau diperintahkan Nya untuk mengorbankan anaknya. Semua itu dijalani dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan.
QS. Shaad (38) : 45
Dan ingatlah hamba-hamba Kami : Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang Tinggi.
· Dengan tingkat kepasrahan dan keikhlasan seperti ini, Nabi Ibrahim mempunyai pancaran energi yang luar biasa besarnya. Manusia dan lingkungan yang pernah menjadi lokasi aktifitas beliau akan teresonansi oleh energi beliau. Apalagi karya-karya yang lahir langsung dari tangan beliau – dengan bantuan Allah tentu saja
· Ka’bah adalah karya Nabi Ibrahim. Maka, di dalam Ka’bah ini – dengan izin Allah- tersimpan energi Nabi Ibrahim yang sangat besar. Apalagi Ka’bah menjadi tempat aktifitas beribadah selama bertahun-tahun, maka Ka’bah menyimpan energi yang positif. Dekat dengan Kab’ah serasa dekat dengan Nabi Ibrahim. Kita merasakan ketenangan, kedamaian dan kelembutan, persis seperti sifat Nabi Ibrahim. Maka berdo’a di dekat Ka’bah akan membantu kita untuk khusyuk dan hati menjadi tenang dan fokus pada saat berdo’a. Hilang semua kesombongan dan keangkuhan, sehingga do’a kita menjadi didengar oleh Allah.
QS. Al A’raaf (7) : 55
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas
2. Faktor Hajar Aswad (Batu Hitam)
· Hajar Aswad adalah Batu Hitam yang –konon- jatuh dari langit (kemungkinan besar meteor) yang memiliki kadar logam yang sangat tinggi.
· Hajar Aswad dijadikan sebagai salah satu bagian dari batu fondasi Ka’bah oleh Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail mendapat perintah dari Allah untuk meninggikan fondasi Ka’bah yang sampai kini menjadi pusat peribadatan umat Islam.
Qs. Al Baqarah (2) : 127
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".
Energi yang dipancarkan oleh Nabi Ibrahim sepanjang interaksinya pada waktu itu tersimpan dalam sistem bangunan Ka’bah. Apalagi seusai membangun Ka’bah itu beliau berdua (Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail) berdo’a memohon agar ibadah dan do’a mereka diterima seperti ayat di atas. Hajar Aswad berfungsi sebagai semacam pintu masuk dan keluarnya energi Ka’bah karena memiliki daya hantaran elektromagnetik yang sangat tinggi. Energi Ka’bah mengalir deras di bagian ini meliputi orang disekitarnya. Karena itu orang yang berada paling dekat dengan Hajar Aswad (disitulah letaknya Multazam) itulah yang mengalami pengaruh paling besar karena getaran gelombang doanya berinteraksi dengan sistem energi Ka’bah.
· Hajar Aswad kemungkinan besar memiliki konduktivitas yang luar biasa.
Hal ini dibuktikan saat ada petir yang secara tiba-tiba menyambar Ka’bah pada tahun 1995. Anehnya, petir itu tidak menyambar pengkal petir di gedung-gedung tinggi di sekitar Masjidil Haram, melainkan menyambar Ka’bah. Secara ilmu fisika hal ini menunjukkan betapa dahsyatnya konduktivitas Hajar Aswad dibandingkan dengan Platina yang berada di ujung penangkal petir di gedung-gedung tinggi tersebut. Dalam keadaan biasa, petir seharusnya menyambar benda tertinggi dari permukaan tanah
3. Faktor Orang Berthawaf
· Sesungguhnya setiap perbuatan manusia menghasilkan gelombang eleltromagnetik. Gelombang ini memancar ketika kita sedang berpikir maupun sedang melakukan aktifitas fisik.
· Hal ini terjadi karena tubuh manusia merupakan kumpulan bio elektron yang berputar-putar di setiap atom penyusun tubuh kita. Ketika sedang berbicara, sebenarnya kita sedang memancarkan gelombang suara yang berasal dari getaran pita suara kita. Begitu pula, saat kita melakukan sesuatu, artinya kita sedang memantulkan gelombang cahaya ke berbagai penjuru. Jika tertangkap mata seseorang, gerakan atau perbuatan kita bisa dilihat olehnya.
· Bila kita sedang berpikir maka otak kita juga memancarkan gelombang-gelombang yang bisa dideteksi dengan menggunakan alat perekam otak yang disebut EEG (Electric Encephalo Graph). Jadi, setiap aktifitas kita selalu memancarkan energi.
· Dalam Ilmu Fisika, kita mengenal Kaidah Tangan Kanan, yang berbunyi : Jika ada sebatang konduktor (logam) dikelilingi oleh listrik yang bergerak berlawanan dengan jarum jam, maka pada konduktor itu akan muncul medan gelombang elekromagnetik yang mengarah ke atas.
· Ketika jutaan orang berthawaf mengelilingi Ka’bah, hal ini akan seperti ada arus listrik yang sangat besar berputar-putar berlawanan dengan arah jarum jam mengitari Ka’bah. Kenapa hal ini terjadi ? Hal ini disebabkan tubuh manusia mengandung bio elektron. Ini disebabkan karena Ka’bah, khususnya Hajar Aswad telah berfungsi sebagai konduktor seperti dalam teori Kaidah Tangan Kanan. Bukan konduktor, tapi super konduktor !!
· Gelombang tersebut akan membantu kekuatan do’a orang-orang yang bermunajat di sekitar Ka’bah, khususnya yang berada di dekat Hajar Aswad.
Analogi dengan penyiar radio
· Pada saat seorang penyiar berbicara di depan mikropon, sebenarnya dia sedang menumpangkan suaranya pada gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh peralatan pemancarnya
· Suara dia bisa terdengar (dengan peralatan penerima) dari jarak yang sangat jauh. Hal ini terjadi karena energi suaranya “diangkut” oleh gelombang elektromagnetik dan dipancarkan oleh pemancar dengan power yang besar. Semakin besar powernya, akan semakin besar pula jarak tempuhnya, bisa menjangkau berkilo-kilo meter dari sumber suara.
· Orang yang berdo’a di dekat Multazam adalah laksana seorang penyiar radio yang sedang bertugas. Dia berada di depan “mirofon” Hajar Aswad. Ketika dia berdo’a, maka pancaran energi do’anya itu akan ditangkap oleh super konduktor Hajar Aswad untuk kemudian dipancarkan bersama-sama gelombang elektromagnetik yang mengarah ke atas akibat orang yang berthawaf.
· Dengan demikian energi do’a kita akan “menumpang” gelombang elektromagnetik yang keluar dari Ka’bah itu, mirip dengan yang terjadi pada radio. Kekuatan do’a kita menjadi berlipat kali besarnya dari semula karena dibantu oleh power yang demikian besar dari Ka’bah menuju Arasy Allah.
· Karena power yang demikian besar itulah maka berdo’a di Multazam menjadi demikian mustajab. Energi itu jauh lebih cepat sampai kepada Allah dan cepat pula mendapat balasannya.
(Source : www.hikmahfm.com, ringkasan dari buku "Pusaran Energi Ka'bah" karya Agus Mustofa)
Monday, April 22, 2013
Kenapa Pria diharamkan memakai emas ?
Inilah
tinjauan ilmiah atau analisa medisnya.. Para ahli fisika telah
menyimpulkan bahwa atom pada emas mampu menembus ke dalam kulit dan
masuk ke dalam darah manusia, dan jika kita ( pria ) mengenakan emas
dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang
ditimbulkan yaitu di dalam darah dan urine akan mengandung atom emas
dalam prosentase yang melebihi batas ( diikenal dengan sebutan
" Migrasi Emas " )
Dan apabila ini terjadi, maka akan mengakibatkan penyakit Alzheimer.
Alzheimer adalah suatu penyakit dimana orang tersebut kehilangan semua
kemampuan mental dan fisik serta menyebabkan kembali seperti anak kecil.
Alzheimer bukan penuaan normal, tetapi merupakan penuaan paksaan atau
terpaksa. Dan mengapa Islam membolehkan wanita untuk mengenakan emas ?
Wanita tidak menderita masalah ini karena setiap bulan, partikel
berbahaya tersebut keluar dari tubuh wanita melalui menstruasi.
Ternyata Islam begitu hebat !. Dilarang oleh rasulullah ternyata karena
ada dampak negatif. Padahal dulu, 1400 tahun yang lalu, belum ada para
ahli fisika, tetapi Rasulullah sudah tahu.
Subhanallah
Sunday, April 14, 2013
Kebahagiaan dan Mestakung
Seorang
pembicara wanita yang rumah tangganya harmonis ditanya: “apakah
suaminya yang membuat dia bahagia?” jawabnya mengejutkan sekali :
“tidak!”. Menurut dia, yang membuat ia bahagia adalah dirinya sendiri.
Seorang tua dimasukan ke rumah jompo, alih-alih bersungut-sungut ia
bersyukur. Ia bersyukur dapat kamar yang kecil, ia bersyukur masih bisa
dapat makan, ia bersyukur mempunyai teman-teman jompo lainnya, ia
bersyukur dan bersyukur… dan ia merasa dirinya berbahagia…
Dalam konsep mestakung ketika kita men”set-up” pikiran kita atau
PERCAYA bahwa kita adalah orang yang berbahagia, maka terjadilah
pengaturan diri di dalam tubuh kita. Sikap dan pikiran kita terasa lebih
positif. Rasa percaya ini dapat ditimbulkan dengan menuliskan “saya
diciptakan untuk jadi orang yang berbahagia” dalam buku, di tembok atau
dimana saja. Bisa juga dengan berdoa, meditasi, atau membayangkan diri
kita adalah orang yang berbahagia. Dalam mestakung kondisi percaya ini
adalah kondisi kritis (kita percaya walaupun kenyataannya kita belum
dapat) yang mampu menggerakan sesuatu untuk mengatur diri.
Perubahan sikap ini harus dilanjutkan dengan TINDAKAN, yaitu kalau dulu
sering cemberut sekarang cobalah lebih sering senyum, dulu sering
mengeluh sekarang cobalah lebih sering bersyukur, dulu sering ngomong
kasar sekarang katakan dengan tutur bahasa yang lebih halus, dulu malas
bantu ibu sekarang bersemangatlah bantu ibu, dulu benci orang sekarang
doakanlah mereka, dulu sulit berbagi sekarang rajinlah memberi, dulu
sering berpikiran negatif terhadap temannya sekarang berpikirlah positif
tentang dia dst…dst… Dan jangan lupa berdoa agar kita bisa tetap
melakukan ini terus menerus dan tetap rendah hati.
Ketika
kita lakukan ini dengan TEKUN maka terjadilah mestakung (pengaturan
diri), kita akan melihat keluarga mulai tersenyum pada kita membuat kita
berbahagia, tetangga mulai mau bertegur sapa dengan kita membuat kita
lebih bahagia, teman sekolah/kerabat kerja lebih bersahabat dan membuat
kita lebih bahagia lagi, sepertinya seluruh dunia membuat kita lebih
lebih bahagia… dan kita merasa menjadi orang yang berbahagia di dunia
ini…
Sebaliknya kalau kita men “set-up” (mengeluh terus
menerus) diri kita sebagai orang yang paling malang, maka terjadilah
pengaturan diri (mestakung)… kita benar-benar menjadi orang termalang di
dunia…
Pilihan bahagia atau tidak, ada dalam diri kita….Kita
yang menentukan mau jadi orang berbahagia atau tidak… Proses mestakung+
akan bantu merealisasikan pilihan kita…
ILMU FISIKA dalam Al-QUR’AN
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya,
baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun
dari apa yang tidak mereka ketahui.” (Al Qur’an, 36:36)
Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut “parité”, menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:
“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”
Semua ini menunjukkan bahwa unsur besi tidak terbentuk di Bumi, melainkan dibawa oleh meteor-meteor melalui ledakan bintang-bintang di luar angkasa, dan kemudian “dikirim ke bumi”, persis sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Jelas bahwa fakta ini tak mungkin diketahui secara ilmiah pada abad ke-7, di saat Al Qur’an diturunkan.
KEBENARAN KISAH ASHABUL KAHFI DALAM ILMU FISIKA
Mereka serasa tertidur satu hari didalam gua, namun zaman ternyata telah berganti selama 309 tahun (pendapat lain menyatakan 350 tahun).
وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِئَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعاً
“Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (QS 18:25)
Bagaimana bisa?
Hal ini bisa dibuktikan dengan analisis melalui fisika modern, yaitu teori relativitas Einstein.
“Jika suatu benda, makhluk hidup atau apa saja yang bergerak dengan kecepatan tertentu (mendekati kecepatan cahaya), maka benda tersebut akan mengalami dilatasi waktu dan kontraksi panjang.”
Dan didalam Al Quran surat Al Kahfi ayat 18 termaktub :
“Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.” (QS 18:18)
“…Kami balik-balikkan mereka kekanan dan kekiri…” yang berarti mereka di dalam gua bergerak (digerakkan) dengan kecepatan tertentu. Berapa kecepatan mereka, sehingga mereka dapat hidup melitasi zaman? Dari data-data yang kita dapatkan dari Al-Quran berikut analisis untuk menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus pembuktian kebenaran Ashabul Kahfi dalam Al-Quran.
Dari Al-Quran diperoleh data bahwa waktu menurut mereka (Ashabul Kahfi yang bergerak) t0 = 1 hari. Sedangkan waktu yang sebenarnya adalah t = 309 tahun = 109386 hari (tahun qomariah 1 tahun = 354 hari).
Dan jika nilai t1 dan t0 dimasukkan kedalam rumus :
V2 = 0,99999.C2
V = 0,999999C
Dari penjabaran diatas, jika para Ashabul Kahfi bergerak (digerakkan) mendekati kecepatan cahaya, maka ini membutktikan bahwa peristiwa tersebut sangatlah masuk akal untuk terjadi.
Kemudian penjelasan lainnya.
“…Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka…”
Mengapa orang yang melihat mereka ketakutan?
Seperti penjelasan teori relativitas diatas, bahwa jika suatu benda bergerak dengan kecepatan tinggi maka selalu mengalami dilatasi waktu juga mengalamai kontraksi panjang dengan perumusan ;
Jika V mendekati kecepatan cahaya, maka nilai L1 ( panjang benda yang diamati oleh kerangka acuan yang berbeda) akan mendekati nol. Ini berarti Ashabul Kahfi sudah hampir tidak terlihat wujudnya oleh orang yang melihatnya dari luar.
Namun bahwa mereka digerakkan ke kakan dan ke kiri , yang berarti mereka bergerak bolak balik, sesuai dengan teori fisika bahwa sebuah benda yang bergerak dengan arah yang berlawanan dengan arah semula, maka benda tersebut akan mengalami berhenti sesaat sebelum berbalik arah. Pada saat berhenti sesaat ini, maka panjangnnya akan kembali seperti semula. Sehingga setiap saat mereka akan berubah dari ukuran semula… mengecil… menghilang… membesar… ukuran semula. Begitu seterusnya. Dengan kecepatan yang sangat tinggi. Bisa dibayangkan bagaimana wujud mereka. Tentulah sangat mengerikan bukan?
Penjelasan berikutnya.
فَضَرَبْنَا عَلَى آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَداً
“Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,” (QS 18:11)
Mengapa telinga mereka ditutup?
Sebagaimana kita semua telah mengetahui bahwa bunyi ditimbulkan dari suatu benda yang bergetar atau bergerak dan getaran benda itu menggetarkan udara. Selanjutnya udara tersebut menggetarkan selaput telinga, gendang telinga yang frekwensi getarannya sama dengan getaran frekwensi getaran benda, maka kita mendengar bunyi.
Namun apabila suatu benda bergerak diatas kecepatan bunyi, maka akan terjadi patahan gelombang (supersonic fracture) yang menimbulkan ledakan suara yang luar biasa kuatnya, bahkan mengakibatkan pecahnya kaca dan bengunan-bangunan. Misalnya pada pengemudian pesawat supersonic yang mengakibatkan suara yang meledak-ledak dan meruntuhkan bangunan dan kaca-kaca disekitarnya.
Demikian pula dengan Ashabul Kahfi. Sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwa gerakannnya mendekati kecepatan cahaya sehingga juga berlaku patahan-patahan gelombang, yang akan menimbulkan ledakan suara seperti halnya pesawat supersonic. Oleh karena itu sesuai dengan ayat 11 surat Al Kahfi telinga mereka ditutup selama beberapa tahun, ternyata guna melindungi gendang telinga meraka dari ledakan-ledakan suara yang ditimbulkan dari gerakan mereka yang terlalu cepat.
Dari analisis diatas kita dapat membuktikan secara ilmiah kebenaran cerita Ashabul Kahfi yang dulu oleh orang-orang barat dianggap cerita fantasi. Karena mereka mengganggap cerita itu tidak masuk akal, dan selama ini belum terbukti orang mampu hidup tanpa makan dan minum sampai bertahun-tahun.
Dan mereka memvonis semua cerita yang tidak masuk akal tidak dapat diterima sebagi suatu kebenaran. Persepsi yang demikian itu salah, analisis diatas membuktikan bahwa sesuatu yang tadinya tidak masuk akal menjadi masuk akal. Ini membuktikan bahwa akal manusia itu terbatas, karena mungkin akal manusia belum mampu mencerna dan menganalisis hal-hal tersebut.
Wallahu a’lam bishowab…
Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut “parité”, menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:
“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”
Semua ini menunjukkan bahwa unsur besi tidak terbentuk di Bumi, melainkan dibawa oleh meteor-meteor melalui ledakan bintang-bintang di luar angkasa, dan kemudian “dikirim ke bumi”, persis sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Jelas bahwa fakta ini tak mungkin diketahui secara ilmiah pada abad ke-7, di saat Al Qur’an diturunkan.
KEBENARAN KISAH ASHABUL KAHFI DALAM ILMU FISIKA
Mereka serasa tertidur satu hari didalam gua, namun zaman ternyata telah berganti selama 309 tahun (pendapat lain menyatakan 350 tahun).
وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِئَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعاً
“Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (QS 18:25)
Bagaimana bisa?
Hal ini bisa dibuktikan dengan analisis melalui fisika modern, yaitu teori relativitas Einstein.
“Jika suatu benda, makhluk hidup atau apa saja yang bergerak dengan kecepatan tertentu (mendekati kecepatan cahaya), maka benda tersebut akan mengalami dilatasi waktu dan kontraksi panjang.”
Dan didalam Al Quran surat Al Kahfi ayat 18 termaktub :
“Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.” (QS 18:18)
“…Kami balik-balikkan mereka kekanan dan kekiri…” yang berarti mereka di dalam gua bergerak (digerakkan) dengan kecepatan tertentu. Berapa kecepatan mereka, sehingga mereka dapat hidup melitasi zaman? Dari data-data yang kita dapatkan dari Al-Quran berikut analisis untuk menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus pembuktian kebenaran Ashabul Kahfi dalam Al-Quran.
Dari Al-Quran diperoleh data bahwa waktu menurut mereka (Ashabul Kahfi yang bergerak) t0 = 1 hari. Sedangkan waktu yang sebenarnya adalah t = 309 tahun = 109386 hari (tahun qomariah 1 tahun = 354 hari).
Dan jika nilai t1 dan t0 dimasukkan kedalam rumus :
V2 = 0,99999.C2
V = 0,999999C
Dari penjabaran diatas, jika para Ashabul Kahfi bergerak (digerakkan) mendekati kecepatan cahaya, maka ini membutktikan bahwa peristiwa tersebut sangatlah masuk akal untuk terjadi.
Kemudian penjelasan lainnya.
“…Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka…”
Mengapa orang yang melihat mereka ketakutan?
Seperti penjelasan teori relativitas diatas, bahwa jika suatu benda bergerak dengan kecepatan tinggi maka selalu mengalami dilatasi waktu juga mengalamai kontraksi panjang dengan perumusan ;
Jika V mendekati kecepatan cahaya, maka nilai L1 ( panjang benda yang diamati oleh kerangka acuan yang berbeda) akan mendekati nol. Ini berarti Ashabul Kahfi sudah hampir tidak terlihat wujudnya oleh orang yang melihatnya dari luar.
Namun bahwa mereka digerakkan ke kakan dan ke kiri , yang berarti mereka bergerak bolak balik, sesuai dengan teori fisika bahwa sebuah benda yang bergerak dengan arah yang berlawanan dengan arah semula, maka benda tersebut akan mengalami berhenti sesaat sebelum berbalik arah. Pada saat berhenti sesaat ini, maka panjangnnya akan kembali seperti semula. Sehingga setiap saat mereka akan berubah dari ukuran semula… mengecil… menghilang… membesar… ukuran semula. Begitu seterusnya. Dengan kecepatan yang sangat tinggi. Bisa dibayangkan bagaimana wujud mereka. Tentulah sangat mengerikan bukan?
Penjelasan berikutnya.
فَضَرَبْنَا عَلَى آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَداً
“Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,” (QS 18:11)
Mengapa telinga mereka ditutup?
Sebagaimana kita semua telah mengetahui bahwa bunyi ditimbulkan dari suatu benda yang bergetar atau bergerak dan getaran benda itu menggetarkan udara. Selanjutnya udara tersebut menggetarkan selaput telinga, gendang telinga yang frekwensi getarannya sama dengan getaran frekwensi getaran benda, maka kita mendengar bunyi.
Namun apabila suatu benda bergerak diatas kecepatan bunyi, maka akan terjadi patahan gelombang (supersonic fracture) yang menimbulkan ledakan suara yang luar biasa kuatnya, bahkan mengakibatkan pecahnya kaca dan bengunan-bangunan. Misalnya pada pengemudian pesawat supersonic yang mengakibatkan suara yang meledak-ledak dan meruntuhkan bangunan dan kaca-kaca disekitarnya.
Demikian pula dengan Ashabul Kahfi. Sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwa gerakannnya mendekati kecepatan cahaya sehingga juga berlaku patahan-patahan gelombang, yang akan menimbulkan ledakan suara seperti halnya pesawat supersonic. Oleh karena itu sesuai dengan ayat 11 surat Al Kahfi telinga mereka ditutup selama beberapa tahun, ternyata guna melindungi gendang telinga meraka dari ledakan-ledakan suara yang ditimbulkan dari gerakan mereka yang terlalu cepat.
Dari analisis diatas kita dapat membuktikan secara ilmiah kebenaran cerita Ashabul Kahfi yang dulu oleh orang-orang barat dianggap cerita fantasi. Karena mereka mengganggap cerita itu tidak masuk akal, dan selama ini belum terbukti orang mampu hidup tanpa makan dan minum sampai bertahun-tahun.
Dan mereka memvonis semua cerita yang tidak masuk akal tidak dapat diterima sebagi suatu kebenaran. Persepsi yang demikian itu salah, analisis diatas membuktikan bahwa sesuatu yang tadinya tidak masuk akal menjadi masuk akal. Ini membuktikan bahwa akal manusia itu terbatas, karena mungkin akal manusia belum mampu mencerna dan menganalisis hal-hal tersebut.
Wallahu a’lam bishowab…
Saturday, April 13, 2013
soal dan pembahasan : rangkaian listrik dinamis
E1 = 6 volt
E2 = 9 volt
E3 = 12 volt

Tentukan :
a) Kuat arus yang melalui R1 , R2 dan R3
b) Beda potensial antara titik B dan C
c) Beda potensial antara titik B dan D
d) Daya pada hambatan R1
Pembahasan
a) Kuat arus yang melalui R1 , R2 dan R3
Langkah-langkah standar :
- menentukan arah arus
- menentukan arah loop
- masukkan hukum kirchoff arus
- masukkan hukum kirchoff tegangan
- menyelesaikan persamaan yang ada
Misalkan arah arus dan arah loop seperti gambar berikut :

Hukum Kirchoff Arus dan Tegangan :
Loop 1
(Persamaan I)
Loop II
(Persamaan II)
Gabungan persamaan I dan II :
b) Beda potensial antara titik B dan C
c) Beda potensial antara titik B dan D
d) Daya pada hambatan R1
BAGAIMANA MENCINTAI FISIKA
Tak kenal maka tak sayang
begitulah bunyi salah satu pepatah..
mengingat saya adalah seorang pengajar fisika,maka kali ini saya akan berbagi tips bagaimana mencintai ilmu fisika, karena sampai sekarang masih banyak siswa yang menganggap fisika itu hantu yang menakutkan, hiii ngeriii :)
Fisika bukanlah matematika,fisika bukanlah rumus2,fisika merupakan sebuah ilmu alam yang sifatnya dinamis,terus berkembang. Klo saya boleh mengatakan bahwa matematika itu adalah "bahasanya" fisika.
So,gak usah terlalu lama sob,cekidot :)
DOWNLOAD
begitulah bunyi salah satu pepatah..
mengingat saya adalah seorang pengajar fisika,maka kali ini saya akan berbagi tips bagaimana mencintai ilmu fisika, karena sampai sekarang masih banyak siswa yang menganggap fisika itu hantu yang menakutkan, hiii ngeriii :)
Fisika bukanlah matematika,fisika bukanlah rumus2,fisika merupakan sebuah ilmu alam yang sifatnya dinamis,terus berkembang. Klo saya boleh mengatakan bahwa matematika itu adalah "bahasanya" fisika.
So,gak usah terlalu lama sob,cekidot :)
DOWNLOAD
MESTAKUNG
Saya mau repost sob dr artikelnya pak yohanes surya tentang MESTAKUNG, simak ya sob :)
Bagaimana cara mestakung bekerja? Apa filosofi dibalik mestakung?
Mestakung (semesta mendukung) bekerja berdasarkan PENGATURAN DIRI (fisikawan menyebut ini sebagai self-organizing criticality), ketika sesuatu berada dalam kondisi kritis maka terjadilah pengaturan diri.
Misalnya kita mempunyai target menjadi CEO. Langkah pertama adalah PERCAYA bahwa kita bisa jadi CEO yang sukses, walaupun kenyataannya saat ini belum jadi (ini yang dinamakan kondisi kritis, hk pertama mestakung). Untuk menimbulkan rasa percaya ini, kita boleh menuliskan “saya ini CEO yang sukses” dalam buku, di tembok atau dimana saja. Bisa juga dengan berdoa, meditasi, atau membayangkan diri kita adalah CEO yang sukses.
Rasa percaya ini akan menimbulkan pengaturan diri dalam pikiran dan perbuatan kita. Sikap kita tiba-tiba menjadi lebih optimis dan lebih semangat.
Perubahan sikap ini harus diikuti dengan TINDAKAN (hk kedua mestakung) seperti belajar dari CEO (membaca biografi para CEO, belajar strategi memimpin perusahaan, teknik negosiasi dsb), bekerja lebih keras (datang paling pagi, pulang paling malam), sopan hormat pada atasan, selalu memotivasi teman-teman dan mencari ide-ide untuk membuat perusahaan berkembang cepat.
Tindakan di atas akan menimbulkan pengaturan diri dari sekeliling kita: teman-teman dan bawahan kita akan bersikap lebih positif dan mendukung pekerjaan kita, atasan dan pemilik modal bertambah senang dengan kemajuan perusahaan, bonus mulai berdatangan, dunia seakan berubah menjadi lebih indah, lebih positif, lebih optimis dan lebih mendukung kita.
Kalau kita terus TEKUN (hk ketiga mestakung), kita akan melihat mestakung, akan timbul percepatan (pelipatgandaan hasil) yang luar biasa, tiba-tiba perusahaan dapat keuntungan yang luar biasa, entah gimana caranya pemilik modal tahu bahwa kita yang membuat perusahaan ini menjadi besar, pemilik modal senang dan …… kita dipromosikan menjadi CEO!
Prinsip mestakung di atas dapat diterapkan pada mereka yang sedang berjuang sembuh dari penyakit, mencari pasangan hidup, mengatasi masalah rumah tangga, ingin studi lanjut, ingin jadi orang kaya dsb.
Selamat ber “mestakung” …….
DOWNLOAD
Bagaimana cara mestakung bekerja? Apa filosofi dibalik mestakung?
Mestakung (semesta mendukung) bekerja berdasarkan PENGATURAN DIRI (fisikawan menyebut ini sebagai self-organizing criticality), ketika sesuatu berada dalam kondisi kritis maka terjadilah pengaturan diri.
Misalnya kita mempunyai target menjadi CEO. Langkah pertama adalah PERCAYA bahwa kita bisa jadi CEO yang sukses, walaupun kenyataannya saat ini belum jadi (ini yang dinamakan kondisi kritis, hk pertama mestakung). Untuk menimbulkan rasa percaya ini, kita boleh menuliskan “saya ini CEO yang sukses” dalam buku, di tembok atau dimana saja. Bisa juga dengan berdoa, meditasi, atau membayangkan diri kita adalah CEO yang sukses.
Rasa percaya ini akan menimbulkan pengaturan diri dalam pikiran dan perbuatan kita. Sikap kita tiba-tiba menjadi lebih optimis dan lebih semangat.
Perubahan sikap ini harus diikuti dengan TINDAKAN (hk kedua mestakung) seperti belajar dari CEO (membaca biografi para CEO, belajar strategi memimpin perusahaan, teknik negosiasi dsb), bekerja lebih keras (datang paling pagi, pulang paling malam), sopan hormat pada atasan, selalu memotivasi teman-teman dan mencari ide-ide untuk membuat perusahaan berkembang cepat.
Tindakan di atas akan menimbulkan pengaturan diri dari sekeliling kita: teman-teman dan bawahan kita akan bersikap lebih positif dan mendukung pekerjaan kita, atasan dan pemilik modal bertambah senang dengan kemajuan perusahaan, bonus mulai berdatangan, dunia seakan berubah menjadi lebih indah, lebih positif, lebih optimis dan lebih mendukung kita.
Kalau kita terus TEKUN (hk ketiga mestakung), kita akan melihat mestakung, akan timbul percepatan (pelipatgandaan hasil) yang luar biasa, tiba-tiba perusahaan dapat keuntungan yang luar biasa, entah gimana caranya pemilik modal tahu bahwa kita yang membuat perusahaan ini menjadi besar, pemilik modal senang dan …… kita dipromosikan menjadi CEO!
Prinsip mestakung di atas dapat diterapkan pada mereka yang sedang berjuang sembuh dari penyakit, mencari pasangan hidup, mengatasi masalah rumah tangga, ingin studi lanjut, ingin jadi orang kaya dsb.
Selamat ber “mestakung” …….
DOWNLOAD
Subscribe to:
Comments (Atom)



